Muamalat Layani Pembayaran Gaji Industri Kuliner Makassar

Sejumlah pelaku industri kuliner tradisional di Kota Makassar telah memanfaatkan layanan pengelolaan gaji yang disediakan Bank Muamalat.
Sitti Hamdana R
Sitti Hamdana R - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  15:49 WIB

Bisnis.com, MAKASSAR – Sejumlah pelaku industri kuliner tradisional di Kota Makassar telah memanfaatkan layanan pengelolaan gaji yang disediakan Bank Muamalat seiring dengan kian meningkatnya kepercayaan terhadap layanan perbankan berbasis syariah di kota tersebut.

Pemimpin Bank Muamalat Regional Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua) Ahmad S. Ilham mengatakan bahwa layanan pengelolaan gaji atau payroll yang dimiliki perseroan terus mencatatkan tren peningkatan dan mencakup seluruh segmen ritel, termasuk pelaku industri kuliner atau rumah makan.

Khusus untuk industri kuliner khas Makassar yang masuk dalam portofolio layanan payroll Muamalat Sulampua, di antaranya adalah Rumah Makan (RM) Coto Gagak serta RM Mas Daeng yang selama ini dikenal sebagai destinasi kuliner favorit di Sulawesi Selatan.

"Alhamdulillah, pembayaran gaji melalui Muamalat makin mendapatkan kepercayaan dari lintas segmen. Tidak hanya yang bersifat kelembagaan seperti pemda, BUMN, perguruan tinggi, perusahaan swasta, tetapi juga segmen ritel seperti pelaku industri kuliner sudah mempercayakan payroll-nya lewat Muamalat," papar pria yang kerap disapa Ilo, Jumat (19/7/2019).

Untuk selanjutnya, papar dia, masih terdapat sejumlah pelaku usaha berbagai klasifikasi di Makassar yang telah menjajaki jalinan kerja sama payroll dengan Bank Muamalat, di mana bakal dikombinasikan dengan produk tabungan sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Ilo mencontohkan, payroll yang terjalin dengan Coto Gagak maupun Mas Daeng itu dikoneksikan dengan produk tabungan syariah Muamalat, sehingga bisa digunakan karyawan untuk melakukan transaksi keuangan hingga perencanaan umrah maupun haji, serta beragam kebutuhan fundamental lainnya.

Secara bisnis, kepercayaan publik untuk pengelolaan gaji dengan skema perbankan syariah diakui menjadi salah satu penyokong pertumbuhan DPK Muamalat Sulampua terutama dana murah (CASA) sehingga mencatatkan kinerja atraktif dari waktu ke waktu.

"Pengelolaan gaji ASN dengan jalinan kerja sama pemda di Sulampua juga terus berjalan, korporasi swasta maupun milik pemerintah. Sedangkan untuk segmen industri skala kecil menengah, sepeti rumah makan dan sebagainya, juga akan terus bertambah kedepannya, InsyaAllah," tutur Ilo.

Secara umum, langkah yang dilakukan Muamalat itu menjadi manifestasi dari dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulampua agar perbankan syariah lebih aktif melakukan terobosan agar bisa menarik lebih kepercayaan publik untuk pelayanan kebutuhan perbankan.

Hal tersebut diharapkan menjadi stimulus pada sisi daya ungkit perbankan syariah mendapatkan pangsa lebih besar dan menekan gap dengan konvensional.

Sebagai gambaran, market share perbankan syariah khusus di Sulsel masih sebesar 5,40% ekuivalen Rp7,9 triliun per April 2019.

Artinya, kalau dilihat dari sisi market share tersebut, kinerja perbankan syariah masih sangat timpang jika dibanding dengan raihan bank konvensional, di mana pada periode April 2019 mencatatkan aset sebesar Rp139,13 triliun.

Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Zulmi, mengatakan market share syariah masih berkutat di angka satu digit karena masyarakat masih terpatri dengan sistem konvensional, apalagi perbankan syariah memang baru dikembangkan belakangan.

"Tentunya sosialisasi kepada masyarakat perlu terus kita genjot," terangnya. (K39)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
makassar, bank muamalat

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top