Hunian Tetap Korban Bencana Alam Sulteng Mulai Dibangun

Pembangunan huntap bagi masyarakat korban bencana alam di Sulteng dipusatkan di 3 lokasi. Ketiga lokasi yang menjadi tempat pembangunan huntap berada di Kelurahan Tondo, Duyu, dan Pombewe.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 01 Juli 2019  |  13:37 WIB
Hunian Tetap Korban Bencana Alam Sulteng Mulai Dibangun
Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan - Antara

Bisnis.com, SIGI - Pembangunan ribuan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat di Palu, Donggala dan Sigi yang terkena dampak bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi September 2018 resmi dimulai.

Dimulainya pembangunan huntap ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, Senin (1/7/2019). Peletakan batu pertama oleh Wiranto dilakukan di Pombewe, Kabupaten Sigi.

Menurut Kepala Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Palu, Sigi dan Donggala Ari Setiadi Murwanto, pembangunan huntap bagi masyarakat korban bencana alam di Sulteng dipusatkan di 3 lokasi. Ketiga lokasi yang menjadi tempat pembangunan huntap berada di Kelurahan Tondo, Duyu, dan Pombewe.

Pembangunan huntap di 3 lokasi itu dilakukan pemerintah dan sejumlah yayasan. Akan tetapi, saat ini yayasan yang sudah pasti membantu pembangunan huntap adalah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

"[Pembangunan huntap] dibagi dalam 3 tahap. Ini yang pertama langsung dimulai di sini [Pombewe]. Pembangunan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) harus dilelang dulu, sudah mulai lelang dan lebih kurang 2 bulan lagi. Tapi ini land clearing, air minum dan sebagainya semuanya sudah," kata Ari di Pombewe, Sigi, Sulteng.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Sumadilaga mengatakan, pemerintah pertama-tama membantu penyediaan lahan, akses air bersih, hingga pengavelingan huntap di 3 lokasi. Setelah itu, pembangunan huntap dimulai dalam 3 tahap.

Ada setidaknya 11.000 hunian yang dibutuhkan masyarakat korban bencana alam di Palu, Donggala dan Sigi. Jumlah itu masih bisa bertambah.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, saat ini Yayasan Buddha Tzu Chi telah memulai pembangunan 3.000 huntap. Sisanya, sekitar 8.000 huntap akan langsung dibangun setelah Kementerian PUPR menyelesaikan lelang proyek tersebut.

"Tapi yang pasti lahan juga sudah ada. Nanti kita kerjain 100 hektare dulu [di Pombewe], bertahap sambil kita evaluasi dan hitung berapa kebutuhannya," tutur Danis.

Huntap yang akan dibangun nantinya diperuntukkan bagi masyarakat yang huniannya rusak atau berada pada zona merah. Pembangunan huntap, selain dilakukan di 3 lokasi, juga berjalan pada daerah-daerah terpisah.

Huntap yang dibangun di daerah-daerah terpisah disebut hunian tetap satelit. Artinya, huntap di daerah-daerah itu dibangun tidak dalam jumlah besar dan untuk mengakomodasi kebutuhan warga yang memiliki mata pencaharian di sekitar wilayah terkait.

"Misal di tanah sini ada [tanah] yang aman dan kosong, dibangun 2 hektare, 3 hektare. Karena itu untuk masyarakat yang mau tetap situ. Kalau mau di situ asal aman nggak apa-apa," katanya.

Seluruh huntap yang dibangun menggunakan teknologi tahan gempa. Teknologi yang digunakan bernama Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat) dan Ridha (Rumah Instan dan Hunian Aman).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hunian, Gempa Palu

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top