Memaksimalkan Peran Badan Usaha Lorong di Makassar

Pemerintah Kota Makassar masih menjadi Badan Usaha Lorong (Bulo) sebagai salah satu program andalan guna menggenjot pertumbuhan ekonomi. Program Bulo sendiri dihadirkan untuk mengubah stigma keterbelakangan yang kerapnkali dilayangkan untuk masyarakat lorong
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  17:34 WIB
Memaksimalkan Peran Badan Usaha Lorong di Makassar
Pembangunan masjid 99 kubah dilihat dari Anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (15/12/2018). - ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Bisnis.com, MAKASSAR -- Pemerintah Kota Makassar masih menjadi Badan Usaha Lorong (Bulo) sebagai salah satu program andalan guna menggenjot pertumbuhan ekonomi. Program Bulo sendiri dihadirkan untuk mengubah stigma keterbelakangan yang kerapnkali dilayangkan untuk masyarakat lorong.

Asisten II Pemkot Makassar Bidang Perekonomian, Andi Irwan Bangsawan mengatakan, tak jarang keberadaan lorong identik dengan kekerasan, kriminalitas, derajat kesehatan rendah, dan tempat menjejalnya berbagai penyakit sosial.

"Olehnya itu, program BULo dihadirkan sebagai program lembaga masyarakat yang mengandung makna sosial dan ekonomi dengan tujuan profit, semi profit dan nirlaba dalam mendukung nilai tambah kesejahteraan masyarakat," kata Irwan, Kamis (27/6/2019).

Diterangkan Irwan, program tersebut bertujuan untuk mendorong pengembangan sekitar 7.520 lorong menjadi produktif sebagai kelanjutan masterplan restorasi lorong di Makassar. Selain itu, Bulo diharapkan pula mampu menekan angka inflasi di sektor konsumsi rumah tangga.

Pakar Pertanian dari Universitas Hasanuddin Prof Laode Asrul menilai, masyarakat lorong merupakan salah satu komponen yang bisa berperan aktif dalam menggerakkan perekonomian kota. Misalnya saja dengan dibentuknya Kelompok Tani Lorong (Poktanrong).

"Kehadiran kelompok tani ini mampu mengoptimalkan penggunaan lahan pekarangan dengan baik, maka otomatis dapat mendatangkan banyak manfaat," kata Laode.

Manfaat lain yang bisa didapatkan antara lain peningkatan SDM petani lorong dalam penerapan teknologi pertanian dan peningkatan kesadaran, serta peran kelompok dalam mewujudkan ketersediaan pangan.

Sebagai contoh, jika ketersediaan pangan berkurang, maka merupakan tugas Dinas Ketahanan Pangan untuk mengambil andil agar tetap menjaga keseimbangan pangan. Kehadiran Bulo dinilai mampu menjadi penopang untuk menjaga keseimbangan itu.

Olehnya, itu para Poktanring diberikan kemudahan untuk melihat komoditi yang berpotensi untuk ditanam ataupun dikelola dalam skala lorong. Kemudahan itu bahkan diimplementasikan dalam bentuk aplikasi berbasis android.

Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan, Ferdi mengatakan, untuk memudahkan masyarakat melihat daftar Poktanrong beserta komoditi yang ditanam, Dinas Ketahanan Pangan telah membuat aplikasi bernama Mr Beby Rong.

"Kami masih mempersiapkan. Rencananya akan dirilis beberapa waktu ke depan," kata Ferdi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumd, makassar

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top