Ekspor Sulut Lanjutkan Tren Penurunan pada Awal Kuartal II/2019

Ekspor Bumi Nyiur Melambai menyusut 44,24 persen menjadi US$55,97 juta pada April 2019, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor Sulut Lanjutkan Tren Penurunan pada Awal Kuartal II/2019
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  18:56 WIB
Ekspor Sulut Lanjutkan Tren Penurunan pada Awal Kuartal II/2019
Pedagang musiman membawa buah kelapa muda untuk dijajakan sebagai minuman berbuka puasa. - Antara/Irwansyah Putra

Bisnis.com, MANADO — Total ekspor Sulawesi Utara masih melanjutkan tren penurunan pada awal kuartal II/2019. Faktor eksternal dan internal dinilai menjadi penyebab masih melempemnya ekspor Bumi Nyiur Melambai.

Nilai ekspor Sulawesi Utara (Sulut) tercatat sebesar US$55,97 juta pada April 2019, menurun 18,66 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$68,81 juta. Secara tahunan, penurunan nilai ekspor tercatat lebih tajam, yakni sebesar 44,24 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hermanto mengatakan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya nilai ekspor komoditas kelapa dan turunannya. Dibandingkan dengan Maret 2019, ekspor golongan lemak dan minyak nabati turun 34,2 persen menjadi US$20,69 juta.

Menurutnya, penurunan tersebut disebabkan oleh menyusutnya ekspor dari Sulut ke beberapa negara tujuan utama seperti Belanda, AS, dan China. Namun, beberapa negara lain seperti Korea Selatan (Korsel) mengalami peningkatan paling tinggi secara bulanan.

“Peningkatan karena komoditas lemak dan minyak hewan nabati, itu termasuk kopra dan kelapa di situnya semua. Total ekspor ke Korsel naik dari Maret 2019 yang hanya US$4,65 juta menjadi US$8,78 juta. Artinya,  ini kan satu peluang di pangsa ekspor yang lainnya,” ujar Ateng kepada Bisnis, belum lama ini.

Adapun pendorong utama ekspor golongan lemak dan minyak nabati adalah komoditas kopra, minyak kelapa, dan minyak sawit. Ekspor kopra tercatat sebesar US$8,47 juta, sedangkan minyak kelapa kasar mencapai US$3,95 juta.

“Dari US$20,69 juta, itu produk sawitnya sekitar US$5 juta saja, sisanya dari US$15 juta dari kelapa atau kopra. Kopra ini kan turun, makanya ketika turun ini perlu dicermati mana yang turun. China turun, tapi Korsel naik, sisanya Malaysia, berarti ada peralihan,” sambungnya.

Pada periode Januari—April 2018, total ekspor Sulut mencapai 363,33 juta. Namun, pada empat bulan pertama tahun ini, kinerja tersebut menurun  27,94 persen menjadi US261,81 juta.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut Jenny Karouw menjelaskan penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan, khususnya dari negara Eropa seperti Belanda yang merupakan salah satu mitra dagang utama Sulut.

Musim dingin di negara-negara itu disebut sangat memengaruhi permintaan produk minyak kelapa yang cenderung membeku. Alhasil, mereka lebih memilih menggunakan komoditas alternatif seperti minyak bunga matahari dan minyak zaitun.

Di samping itu, dia menilai kegiatan produksi masyarakat juga cenderung menurun sepanjang April 2019. Persiapan dan kegiatan Pemilu 2019 disebut sangat memengaruhi kegiatan produksi masyarakat sepanjang periode tersebut.

“Karena terganggunya di tenaga kerja, maka produktivitasnya turun, Pilpres saja kan sehari sebelumnya orang sudah harus pulang dulu ke asalnya, jadi kurang lebih seminggu itu tidak maksimal produksi karena kegiatan Pemilu,” terang Jenny.

Produktivitas juga diproyeksi masih menurun pada Mei 2019 dengan adanya kegiatan libur dan cuti bersama perayaan Idulfitri. 

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sulut Ivanry Matu mengungkapkan penurunan ekspor Sulut disebabkan oleh penurunan permintaan karena produktivitas komoditas kelapa tidak mengalami penurunan signifikan.

Selain itu, ekspor Sulut saat ini masih tergantung terhadap produk kelapa dan turunannya yang terlalu besar. Padahal, dia memandang banyak komoditas lain yang dibutuhkan oleh negara-negara Eropa, seperti cengkih, pala, dan produk turunan kelapa.

Komoditas tersebut sebenarnya sudah beberapa masuk ke dalam daftar komoditas ekspor yang dikirim dari Sulut. Namun demikian, persoalan standar dan akses pasar membuat ekspor rempah-rempah itu belum maksimal.

Salah satu rencana yang tengah dijajaki oleh Kadin Sulut adalah menjalin kerja sama dengan Belanda. Belum lama ini, lanjut Ivanry, perwakilan delegasi negara itu sudah bertemu dengan Kadin Sulut dan perwakilan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut.

“Mereka sampaikan bahwa sebenarnya banyak peluang ekspor ke Belanda yang selama ini memang sudah menjadi salah satu mitra perdagangan utama di Sulut. Kami masih akan kaji lagi ke depan, melihat potensinya seperti apa, dan kualitas serta kuantitas yang bisa disediakan oleh Sulut,” jelasnya.

Pemerintah Belanda juga diklaim berencana menjalin misi perdagangan baru dengan Pemprov Sulut. Kerja sama itu diperkirakan akan terealisasi menjelang akhir tahun ini atau pada kuartal IV/2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, sulut

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top