BI dan TPID Sulut Jaga Inflasi Selama Ramadan

Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara menyiapkan sejumlah rekomendasi kepada tim pengendali inflasi daerah (TPID) dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk mengelola kenaikan harga sepanjang Ramadan dan jelang Idulfitri.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  16:38 WIB
BI dan TPID Sulut Jaga Inflasi Selama Ramadan
Ilustrasi - ANTARA/Arnas Padda

Bisnis.com, MANADO — Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara menyiapkan sejumlah rekomendasi untuk mengelola kenaikan harga sepanjang Ramadan dan jelang Idulfitri.

Rekomendasi tersebut akan disampaikan kepada tim pengendali inflasi daerah (TPID) dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. 

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengatakan berdasarkan koordinasi awal yang dilakukan bersama TPID dapat dipastikan bahwa bahan pokok, khususnya yang dikelola Perum Bulog akan mencukupi kebutuhan.

“Kecukupan stok itu oke, mereka sudah buat pemetaannya, beras, gula, minyak goreng, telur, daging kerbau juga mereka sudah punya,” kata Arbonas di Manado, Jumat (10/5/2019).

Kendati demikian, beberapa komoditas lain seperti cabai dan bawang merah terus mengalami kenaikan harga sepanjang pekan ini. Harga cabai rawit merah bahkan sempat tercatat menembus harga Rp110.000/kg.

Arbonas mengatakan, kenaikan harga cabai tersebut hanya terjadi di Sulut dan Gorontalo. Arbonas menyebut salah satu alasan penyebab kenaikan harga cabai adalah preferensi masyarakat yang hanya ingin mengkonsumsi cabai dari daerah Sulut dan Gorontalo saja. 

“Di Sulawesi Selatan harganya belum segitu, itu juga menjadi pemikiran kami, kami akan sampaikan ini kepada Gubernur. Barito [bawang, rica, tomat] kan jadi tema di tahun lalu, pada tahun-tahun sebelumnya juga kan selalu diperhatikan secara serius,” kata Arbonas.

Pada April, harga komoditas bawang dan cabai memang tercatat sudah mulai naik. Namun, inflasi secara umum masih urung terjadi di Bumi Nyiur Melambai lantaran tomat sayur mengalami penurunan harga yang signifikan.

Sementara itu, Kepala Tim Advisori Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia Perwakilan Sulut Gunawan mengatakan bahwa langkah lain yang dapat dilakukan TPID untuk mengelola inflasi adalah dengan menggelar pasar murah ke daerah-daerah tertentu.

Menurutnya, secara teknsi operasi pasar murah tersebut akan dilakukan oleh Pemprov Sulut sebagai inisiator. Bank Indonesia Perwakilan Sulut, lanjutnya, akan memberikan rekomendasi terkait titik, dan waktu pelaksanaan pasar murah agar berperan optimal menahan kenaikan harga.

“Jadi perlu ada penjadwalannya, ada sequence titik-titiknya di mana, jangan bertumpuk pada satu titik saja, tapi fokus pada daerah-daerah, khususnya yang merayakan lebaran,” kata Arbonas.

Sebagai langkah awal, Dinas Perindustrian dan Perdagangan sudah mulai menggelar pasar murah di daerah kepulauan. Menurut Arbonas, daerah kepulauan diutamakan karena mempertimbangkan faktor cuaca yang kurang menentu belakangan ini.

Di samping itu, Bank Indonesia Perwakilan Sulut juga terus mengedukasi masyarakat untuk mengelola ekspektasi. Sebab, faktor ekspektasi berperan cukup besar dalam kenaikan harga bahan pokok yang kadang tidak dipicu oleh peningkatan permintaan.

 “Jadi misalnya karena ekspektasinya menjelang lebaran itu harga akan naik maka pedagang menaikkannya, padahal sebenarnya permintaannya tidak terjadi. Selain itu, ada yang menaikkan harga karena ikut-ikutan melihat daerah lain,” jelas Arbonas.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre Sulut dan Gorontalo Sopran Kenedi mengatakan bahwa stok yang disiapkan untuk menghadapi Ramadan dan Idulfitri meliputi beras medium 25.050 ton, beras premiun 215 ton, gula 937 ton, minyak goreng 33.230 liter, tepung terigu 8.500 kg, dan daging kerbau 6,8 ton.

“Khusus untuk beras ketahanan stok mencapai 10—11 bulan alokasi dengan asumsi penyaluran rutin 2.200 ton/bulan. Secara bertahap kami masih akan menerima penambahan stok untuk komoditi gula, minyak goreng, daging kerbau beku, dan terigu,” katanya kepada Bisnis, Jumat (10/5/2019).

GORONTALO

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Gorontalo telah lebih dini menggelar pasar murah melalui Dinas Pangan Provinsi Gorontalo. Pasar murah yang digelar sejak Kamis (9/5/2019) hingga Sabtu (11/5/2019) merupakan gelaran pertama dari dua tahap yang direncanakan.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Dinas Pangan Provinsi Gorontalo Dharmawaty Bokings mengatakan bahwa rencananya, pasar murah tahap kedua akan dilaksanakan pada 23—25 Mei pada lokasi yang sama, di Toko Tani Indonesia Center, Gorontalo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi, sulut

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top