30 Persen Korban Bencana Palu Masih Tinggal di Pengungsian

30 persen pengungsi bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu masih tinggal dan hidup di selter-selter pengungsian.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  20:00 WIB
30 Persen Korban Bencana Palu Masih Tinggal di Pengungsian
Warga antre membeli elpiji ukuran tiga kilogram bersubsidi dalam operasi pasar di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (8/5/2019). Operasi pasar tersebut bertujuan untuk membantu masyarakat mendapatkan elpiji bersubsidi dengan harga sesuai menyusul terjadinya kenaikan harga di tingkat pengecer. Dalam operasi pasar itu, harga elpiji tiga kilogram bersubsidi dijual dengan harga Rp16 ribu per tabung sementara di tingkat pengecer rata-rata naik bervariasi antara Rp30 ribu sampai Rp40 ribu pertabung. - Antara/Mohamad Hamza

Bisnis.com, PALU – Sampai hari ini, 30 persen pengungsi bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu masih tinggal dan hidup di selter-selter pengungsian.

Wali Kota Palu, Hidayat di Palu, Rabu (8/5/2019), menjelaskan masih banyaknya pengungsi tinggal di selter disebabkan fasilitas umum dan vital di hunian sementara (huntara) baik yang dibangun oleh Non Government Organization (NGO) maupun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) belum terpasang dan tersedia.

"Permasalahannya listrik dan air bersih yang belum ada. Kebanyakan huntara atau hunian nyaman yang dibangun NGO," tambahnya.

Oleh sebab itu, dia menyatakan telah meminta kepada Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Longki Djanggola selaku perwakilan pemerintah pusat di daerah agar secepatnya mengatasi persoalan itu.

"Terang kami (Pemerintah Kota Palu) tidak punya dana untuk membiayai pemasangan dan penyediaan listrik dan air bersih di sana," katanya.

Seorang anak melemparkan kail saat memancing ikan di pelabuhan peti kemas yang terdampak bencana gempa dan tsunami di Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (8/5/2019). Wali Kota Palu, Hidayat mengemukakan terdapat empat sektor terparah akibat bencana 28 September 2018 yang harus mendapat prioritas penanganan pada masa pemulihan dan rekonstruksi, yakni kelautan dan perikanan, pariwisata, tenaga kerja, UMKM dan IKM, dimana sebagian besar penduduk Kota Palu menggantungkan hidup dari sektor tersebut./Antara-Mohamad Hamzah

Selain itu masih adanya pengungsi yang tinggal di selter atau tenda pengungsian, lanjutnya juga disebabkan belum siapnya lahan yang akan dimanfaatkan sebagai kawasan pembangunan huntara.

Dia mencontohkan pengungsi tsunami di Kelurahan Baru yang kini tinggal di selter-selter pengungsian di halaman Masjid Agung Darussalam Palu saat ini masih menunggu huntara yang akan dibangun di halaman Universitas Tadulaku di Kelurahan Lere.

"Di sana akan dibangun huntara bantuan dari Bank BRI. Padahal Bank BRI sempat akan menghentikan pembangunan huntara di sana karena laporan camat dan lurah kepada pihak Bank BRI bahwa tidak ada lahan," ucapnya.

Dia menyebut jumlah pengungsi bencana di Palu hingga saat ini tidak kurang dari 40 ribu jiwa.

Selain di halaman Masjid Agung Darusslam Palu, beberapa kawasan selter pengungsian di ibu kota Provinsi Sulteng itu masih ditinggali oleh pengungsi.

Di antaranya di kawasan pengungsian terpadu di Sport Center Kelurahan Balaroa, selter pengungsian bantuan Mercy Malaysia di Kelirahan Lere dan sekitar lapangan golf di Kelurahan Talise.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gempa Palu

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top