Sulut Menjajaki Pasar Ekspor Amerika Latin dan Afrika

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tengah menjajaki peluang pasar alternatif ekspor ke Amerika Latin dan Afrika yang ditargetkan dapat dimulai menjelang akhir tahun ini.
Ilman A. Sudarwan | 21 April 2019 17:32 WIB
Tepung kelapa yang siap diekspor. - Antara

Bisnis.com, MANADO—Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tengah menjajaki peluang pasar alternatif ekspor ke Amerika Latin dan Afrika yang ditargetkan dapat dimulai menjelang akhir tahun ini.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diseperindag) Sulut Darwin Muksin mengatakan bahwa peluang pasar baru tesebut merupakan inisiasi dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri.

“Beberapa negara seperti Brasil, Argentina, Uruguay, dan Venezuela juga sedang kami kaji. Afrika juga  Kemendag masih coba ke sana untuk Afrika Selatan dan Libya, ini misi dagang untuk pasar baru,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia mengatakan bahwa beberapa komoditas unggulan seperti produk kelapa dan turunannya akan dibawa ke Trade Expo Indonesia 2019 yang akan diselenggarakan pada Oktober. Namun, dia menargetkan sebelum helatan tersebut diharapkan kerja sama pra business to business (B2B) dapat terselesaikan lebih awal.

Darwin menjelaskan, salah satu perwakilan calon pembeli sudah mendatangi pabrik pengolahan kelapa di Sulut. Pemilik pabrik juga sudah menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan calon pembeli dari negara-negara tersebut.

“Dia sudah datang ke pabrik dan owner-nya siap untuk bertemu dengan buyer, nanti Oktober ada pra B2B, untuk mematangkan daripada satu konsep MoU untuk dibawa ke TEI, supaya nanti di sana kami bisa tunjukkan bahwa sudah ada transaksi, untuk komoditas kelapa dan turunannya,” jelasnya.

Kendati demikian, Darwin mengutarakan bahwa kesepakatan kerja sama tersebut saat ini masih terganjal pertimbangan waktu tempuh dan karakteristik komoditas Sulut. Beberapa produk turunan kelapa, lanjutnya, dikhawatirkan tidak dapat sampai ke negara tujuan dalam kondisi prima.

“Tepung kelapa misalnya, dia bisa bertahan sampai tujuan itu maksimal 40 hari, lewat dari itu dia sudah kuning, nah sekarang mereka akan memperhitungkan waktu pengirimannya. Hal ini yang menjadi analisa daripada buyer dan supplier,” tuturnya.

Keterbatasan industri pengolahan kelapa yang hanya berfokus pada beberapa komoditas diharapkan dapat terbantu dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Menurutnya, beberapa investor dari China sudah menunjukkan ketertarikan untuk membangun pabrik pengolahan kelapa.

“China sudah melirik semua, bahkan untuk air buah kelapa dalam bentuk frozen, dia akan masuk ke sana. Tapi kembali lagi sementara ini baru Futai yang masuk [di KEK], yang lain-lain diharapkan selanjutnya akan ikut,” katanya.

Pertumbuhan industri pengolahan juga diharapkan akan meningkat dengan beroperasinya pelabuhan hub internasional (international hub port/IHP) Bitung secara maksimal. Menurutnya, peluang ekspor baru terutama ke kawasan Asia Pasifik akan meningkat.

Adapun, realisasi volume ekspor Sulut berdasarkan penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) pada Maret tercatat sebesar 23.141,68 ton dengan nilai mencapai US$14,82 juta. Secara tahunan, nilai ekspor mengalami penurunan, namun volume meningkat.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, sulut

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup