Konstruksi Huntara Vale, Rekonstruksi Kebahagiaan Tanah Kaili

Lima bulan selepas bencana dahsyat, rasa pedih masih menggelayuti warga Palu-Donggala-Sigi, Sulawesi Tengah. Namun secara berangsur, kondisi Palu saat ini sudah lebih baik, kendati di beberapa lokasi masih terlihat layaknya kota mati.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 04 Maret 2019  |  07:14 WIB
Konstruksi Huntara Vale, Rekonstruksi Kebahagiaan Tanah Kaili
Aktivitas warga Palu di hunian sementara (huntara) yang dibangun PT Vale Indonesia Tbk. - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Lima bulan selepas bencana dahsyat, rasa pedih masih menggelayuti warga Palu-Donggala-Sigi, Sulawesi Tengah. Namun secara berangsur, kondisi Palu saat ini sudah lebih baik, kendati di beberapa lokasi masih terlihat layaknya kota mati.

Beberapa bangunan tampak tak lagi terurus, bekas-bekas reruntuhan dibiarkan begitu saja tanpa adanya pembenahan. Pemandangan itu banyak terlihat untuk pusat pertokoan, rumah makan, dan hotel.

Keramaian hanya terlihat di kantor-kantor pemerintahan setempat. Aktivitas warga memang telah berangsur pulih, hanya saja bencana yang terjadi September 2018 masih jelas menyisakan jejak kepedihan di Tanah Kaili.

Denyut rekonstruksi pascabencana terlihat di sejumlah titik, salah satunya di Kelurahan Mamboro-Kecamatan Palu Utara akhir Februari lalu.

Di Mamboro ini, ada dua unit hunian sementara (huntara), menjadi pemantik optimisme korban bencana untuk merajut lagi masa depannya.

Dengan raut wajah gembira, Sade, 46 tahun, menyatakan kebahagiaan saat menerima bantuan huntara.  Maklum, 5 bulan terakhir ia dan keluarga hidup di bawah tenda.

“Alhamdulillah, kami tidak lagi di tenda. Anak saya dulu selalu gelisah karena tidurnya hanya beralaskan seadanya,” ungkap ibu lima anak ini.

Rumah miliknya telah hilang tersapu tsunami. Ia hanya menemukan puing-puingnya yang bergeser hingga 100 meter dari lokasi awal. Wa-ung tempat mencari nafkah juga habis tersapu bencana.

Hunian yang Sade terima itu adalah bagian dari huntara yang dibangun oleh PT Vale Indonesia Tbk. yang terdiri dari 24 bilik, dilengkapi dengan sejumlah fasilitas standar.

Pada masing-masing unit huntara dilengkapi dua toilet umum, dua WC umum, dapur, dan ruang untuk mencuci. Hunian di atas lahan 312 meter persegi itu pun sudah dilengkapi dengan fasilitas listrik.

Presiden Direktur & CEO Vale Indonesia Nico Kanter berharap huntara yang diserahkan itu mampu menjadi penyemangat untuk semua pihak.

Tak hanya bagi masyarakat Palu, tetapi juga pihak lain untuk bisa menyalurkan bantuannya kepada para korban bencana.

“Pembangunan huntara ini kami harap bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat khususnya korban bencana yang menerima. Apalagi selama ini mereka hanya tinggal di tenda,” ungkap Nico.

Saat seremoni dan penyerahan huntara dari Vale kepada otoritas Palu, senyum sumringah merekah dari wajah-wajah warga penerima manfaat, yang sempat suram sejak 5 bulan lalu karena dirundung duka.

Tiga hari pascagempa, Nico bersama tim Vale Indonesia sempat terjun langsung ke lokasi bencana, melihat langsung keadaan Palu yang porak poranda.

Huntara diserahkan kepada 24 kepala keluarga korban bencana oleh Nico bersama dengan Deputy CEO Vale Indonesia Febriany Eddy. Adapun para korban bencana diwakili oleh Gubernur Sulteng Longki Djanggola dan Wakil Wali Kota Palu Sigit ‘Pasha’ Purnomo.

Selain huntara dan fasilitas pelengkap lainnya, ada pula pembangunan satu unit Puskesmas dibuka untuk layanan kesehatan masyarakat setempat.

Nico menjelaskan, pembangunan huntara tersebut juga berkat dukungan dan kerja sama sejumlah pihak, di antaranya Himpunan Pengusaha Sorowako (Hipso), serta beberapa kontraktor nasional seperti PT Petra Energy, PT Trakindo Utama, PT Truba Engineering dan PT Coates Hire.

“Secara total anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan huntara ini yakni Rp3,36 miliar,” papar Nico.


Deputy CEO Vale Indonesia Febriany Eddy mengemukakan bantuan itu merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan yang diberikan perseroan. Sejumlah bantuan juga telah disalurkan terutama pada saat masa tanggap bencana. Bahkan pesawat perusahaan juga dipakai untuk
proses penyaluran bantuan.

Untuk selanjutnya, pihaknya berkomitmen akan terus melakukan pendataan kebutuhan korban bencana, berpartisipasi dalam memberikan program air bersih yang dinilai merupakan kebutuhan dasar dan berkesinambungan.

Gubernur Sulteng Longki Djanggola menyampaikan apresiasinya kepada Vale Indonesia karena sejak masa tanggap, perusahaan pengolah nikel itu telah memberi banyak manfaat untuk pemulihan Palu.

“Sesuai dengan master plan, ini betul-betul termasuk huntara yang layak. Penyerahannya pun kami harap tepat sasaran bagi korban yang paling membutuhkan tempat tinggal,” kata Longki.

Secara umum, Palu masih membutuhkan banyak bantuan dari seluruh pihak, tidak hanya bersumber dari pemerintah. Gempa berkekuatan 7,4 skala richter disusul tsunami serta fenomena likuifaksi mengakibatkan kerusakan luar biasa dan korban jiwa yang teramat besar.

Akibat bencana itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 2.000 korban meninggal dunia dan puluhan ribu warga kehilangan tempat tempat tinggal.

Yang jelas, untuk kembali memulihkan Palu butuh waktu dan keterlibatan aktif banyak pihak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vale indonesia, Gempa Palu

Editor : Amri Nur Rahmat

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top