Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gini Ratio Sulut Tertinggi ke-7 secara Nasional

Kendati dianggap berhasil dalam menurunkan jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara menjadi terendah se-Sulawesi pada Maret 2018, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengurangi tingkat ketimpangan Sulut yang berada di peringkat ke-7 secara nasional.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 17 Juli 2018  |  17:22 WIB
Gini Ratio Sulut Tertinggi ke-7 secara Nasional
Tampak depan Kantor Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara - Bisnis/Kurniawan A. Wicaksono

Bisnis.com, MANADO—Kendati dianggap berhasil dalam menurunkan jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara menjadi terendah se-Sulawesi pada Maret 2018, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengurangi tingkat ketimpangan Sulut yang berada di peringkat ke-7 secara nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut menyebut, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk atau gini ratio tertinggi tercatat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 0,441, sedangkan  gini ratio terendah tercatat di Provinsi  Bangka Belitung sebesar 0,281.

Kepala BPS Sulut Ateng Hartono menjelaskan, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk atau gini ratio Sulut pada Maret 2018 tidak mengalami perubahan sejak periode September 2017, yaitu sebesar 0,394.

Kondisi ini masih dikategorikan ke dalam kelompok ketimpangan sedang. Untuk diketahui, suatu wilayah dikatakan mempunyai ketimpangan yang tinggi jika gini ratio melebihi 0,5.

“Artinya, gap pengeluaran antara orang miskin dan kaya semakin timpang,” ujarnya, Selasa (17/7).

Namun, gini ratio di daerah perkotaan maupun pedesaan mulai menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Artinya, ketimpangan pengeluaran antara si kaya dan si miskin baik di perkotaan maupun pedesaan mulai melebar.

Dia menyatakan, sejumlah faktor yang mempengaruhi ketimpangan pengeluaran penduduk di Sulut selama periode September 2017-Maret 2018 antara lain pengeluaran per kapita kelompok bawah dan menengah lebih cepat dibandingkan kelompok atas.

Di daerah perkotaan, pengeluaran per kapita kelompok bawah dan menengah menurun, sedangkan kelompok atas mengalami kenaikan.

Sementara di daerah pedesaan, kenaikan pengeluaran per kapita kelompok atas lebih cepat dibandingkan kelompok bawah dan menengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulut gini ratio
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top