Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA KUARTAL I/2018, Sektor Jasa di Sulut Catatkan Pertumbuhan Tertinggi

Beberapa sektor jasa di Sulawesi Utara mengalami pertumbuhan signifikan pada kuartal I/2018. Kondisi ini digadang-gadang efek dari gencarnya pemerintah daerah membangun sektor pariwisata.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 07 Mei 2018  |  20:52 WIB
KINERJA KUARTAL I/2018, Sektor Jasa di Sulut Catatkan Pertumbuhan Tertinggi
Para wisatawan menikmati keindahan Pantai Paal, Likupang, Sulawesi Utara. bisnis - Kurniawan A. Wicaksono
Bagikan

Bisnis.com, MANADO – Beberapa sektor jasa di Sulawesi Utara mengalami pertumbuhan signifikan pada kuartal I/2018. Kondisi ini digadang-gadang efek dari gencarnya pemerintah daerah membangun sektor pariwisata.

Dalam rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), dengan laju pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) 6,68% (year on year/yoy), lapangan usaha jasa lainnya serta penyediaan akomodasi dan makan minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi, masing-masing 15,63% dan 14,59%.

Kendati hanya memiliki andil maupun porsi yang kecil dalam struktur ekonomi, Kepala BPS Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Moh. Edy Mahmud mengatakan kedua sektor ini sejalan dengan semakin banyaknya wisatawan – terutama mancanegara – yang berkunjung ke Sulut.

“Jasa lainnya ini termasuk diantaranya ada jasa rekreasi dan budaya terkait banyaknya turis. Pertumbuhannya didorong meningkatnya aktivitas jasa hiburan dan geliat pariwisata di Sulut, seiring adanya akses direct flight ke beberapa kota di China,” ujarnya, Senin (7/5/2018).

Capaian kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulut  pada kuartal I/2018 sekitar 29.413 orang, meningkat hingga 63,94% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 17.941 orang. Adapun, wisman asal China masih mendominasi lebih dari 85%.

Sumber: BPS Sulut, 2018

Saat ditanya terkait andil kunjungan wisatawan ke PDRB, Edy mengaku BPS tidak menghitung secara pasti. Apalagi, multiplier effect yang ditimbulkan cukup beragam, mulai dari jasa penginapan, transportasi, souvenir, hingga pertanian dan perikanan.

“Hitungan kasar-kasaran tahun lalu, wisatawan sekitar 100.000 bisa memberikan dorongan 0,3%-0,4% [ke laju PDRB].Namun, itu tidak bisa dijadikan patokan setiap waktu karena strukturnya selalu berubah,” katanya.

Jika melihat dalam struktur PDRB Sulut, jasa lainnya hanya mengambil porsi 1,68%. Sementara, penyediaan akomodasi dan makan minum memiliki porsi 2,29%. Adapun, struktur terbesar masih dipegang pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan porsi 20,30%.

Sumber: BPS Sulut, 2018

Dalam tinjauan menurut pengeluaran, ekspor barang dan jasa memiliki pertumbuhan paling tinggi yakni 10,22%. Selanjutnya diikuti oleh konsumsi LNPRT (9,51%), konsumsi rumah tangga (4,43%), PMTB (4,23%), konsumsi pemerintah (2,57%), serta impor barang dan jasa (1,07%). Kendati demikian, konsumsi rumah tangga masih mendominasi dalam struktur PDRB sebesar 45,87%.

Pertumbuhan ekspor yang cukup tinggi, lanjut Edy, disebabkan oleh peningkatan ekspor komoditas unggulan Sulut seperti produk olahan kelapa yaitu kopra dan minyak kelapa yang bahan bakunya mayoritas merupakan hasil perkebunan di Bumi Nyiur Melambai.

Sementara, tingginya konsumsi LNPRT disebabkan adanya persiapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di enam kabupaten/kota, yakni Kepulauan Talaud, Kepulauan Sitaro, Minahasa, Minahasa Tenggara, Kotamobagu, dan Bolaang Mongondow Utara.

Sumber: BPS Sulut, 2018

“Sedangkan pada 2017 hanya ada dua daerah yang melaksanakan Pilkada,” imbuhnya.

Untuk kuartal II, pihaknya mengestimasi ada beberapa sektor yang bisa didorong untuk menopang laju PDRB, seperti pertanian, industri, transportasi, dan konstruksi. Apalagi, pertumbuhan sektor konstruksi akan lebih tinggi sejalan dengan belanja pemerintah.

Perbaikan

Deputi Direktur Bidang Advisory dan Pengembang Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut MHA Ridhwan memproyeksi pertumbuhan ekonomi Sulut akan membaik ke depan karena optimisme perbaikan harga komoditas dan ekonomi global yang terus berlanjut.

“Komitmen pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisman juga diperkirakan akan berperan dalam peningkatan pertumbuhan ekspor jasa,” katanya.

Bersamaan dengan peningkatan ekspor, BI memperkirakan akan ada peningkatan investasi. Terlebih, iklim investasi semakin kondusif dan pergerakan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang meningkat sejalan dengan positifnya persepsi investor asing.

Sumber: BPS Sulut, 2018

Selain itu, konsumsi pemerintah dan rumah tangga juga diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan puasa dan Lebaran yang jatuh pada kuartal II/2018. Selain itu, Pilkada serentak dan penyaluran dana desa diperkirakan juga akan menstimulus perekonomian.

“Dengan perkembangan tersebut, perekonomian Sulut diperkirakan tumbuh sebesar 6,2%-6,6% (yoy) pada 2018,” imbuhnya.

Kendati demikian, bank sentral masih melihat ada risiko eksternal dan domestik yang tetap perlu diperhatikan. Risiko eksternal mencakup masalah perdagangan China-Amerika Serikat, kenaikan harga minyak, serta risiko geopolitik.

Dari sisi domestik, ada risiko belum optimalnya intermediasi perbankan di Sulut. Untuk Sulut sendiri, ada risiko dari permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan infrastruktur,  seperti pembebasan lahan serta terbatasnya pasokan listrik. Terganggunya administrasi pemerintah daerah karena Pilkada serentak juga menjadi perhatian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perekonomian
Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top