Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tarif Pesawat Buat BI Sulut Deg-Degan

Bank Indonesia memproyeksi tarif angkutan udara masih akan membayangi konsumen Sulawesi Utara, tahun ini.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 22 April 2018  |  11:48 WIB
Pesawat Garuda Indonesia dan Lion Air, di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan Minggu (11/6). - JIBI/Paulus Tandi Bone
Pesawat Garuda Indonesia dan Lion Air, di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan Minggu (11/6). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MANADO – Bank Indonesia memproyeksi tarif angkutan udara masih akan membayangi konsumen Sulawesi Utara, tahun ini.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) Soekowardojo mengungkapkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) sudah mengundang beberapa maskapai dan otoritas bandara.

Dalam pertemuan tersebut, pihaknya meminta agar kebijakan Gubernur Sulut Olly Dondokambey untuk menggenjot sektor pariwisata bisa disinergikan dan didukung oleh maskapai. Dukungan berupa rute penerbangan langsung menjadi langkah yang bisa ditempuh.

Selain itu, permintaan tinggi yang tidak dibarengi dengan penambahan kuota kursi penerbangan juga berisiko mengerek harga sehingga tidak mengherankan jika harga tiket akan terus berada di batas atas. Hal ini, sambung dia, pernah terjadi di Kalimantan Barat.

Menurut Soekowardojo, pihak maskapai dan otoritas bandara mengungkapkan tidak ada masalah dari sisi kapasitas parkir di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Pasalnya, pada saat peak season, kapasitas mencapai 22 pesawat. Kapasitas terpakai hanya 15 pesawat dengan durasi satu jam.

Namun demikian, kapasitas yang masih cukup longgar ini tidak sama seperti di daerah tujuan seperti Denpasar, Surabaya, Jakarta, Balikpapan, dan Makassar. Untuk mencari slot di wilayah tersebut, maskapai harus bersaing ketat.

Secara bisnis, maskapai akan memilih untuk mendahulukan penerbangan yang lebih ramai sehingga menguntungkan. Solusi satu-satunya terkait hal ini yakni penambahan runway di beberapa wilayah tersebut. Ini menjadi pekerjaan rumah secara nasional.

“Jadi, ini agak kompleks dan menjadi pekerjaan rumah kita. Kami juga jadi deg-degan dengan tarif transportasi ini. Dari sisi slot seperti itu dan dari sisi tarif juga masih ada beberapa yang keluar dari ketentuan,” ungkapnya, baru-baru ini.

Soekowardojo menyatakan salah satu hal yang bisa dilakukan yakni meminta agar maskapai penerbangan mematok tarif angkutan udara dalam batas wajar. Ketertiban dalam mematok sesuai tarif batas bawah dan atas harus terus diawasi.

Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatatkan inflasi 1,78% dengan andil inflasi 0,29% dari capaian inflasi umum Manado pada bulan lalu sebesar 0,13%.

Dari andil itu, inflasi untuk angkutan udara yang paling besar yakni 0,27%. Selanjutnya, ada bensin dengan kontribusi 0,01% dan solar dengan porsi 0,001%.

Sementara itu, komoditas yang mengalami deflasi yakni telepon sebesar 0,001%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi tarif pesawat
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top