Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Awal 2020, Inflasi Hantui Sulawesi Selatan

Kelima kabupaten/kota rujukan tersebut di antaranya Kabupaten Bulukumba, Watampone, Kota Makassar, Parepare, dan Palopo. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel menyebut terjadi kenaikan di lima daerah tersebut dari 103,27 pada Desember 2019 menjadi 103,92 pada Januari 2020.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  10:14 WIB
Pedagang aneka bahan bumbu masakan tertidur saat menunggu calon pembeli di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). -  ANTARA / Sigid Kurniawan
Pedagang aneka bahan bumbu masakan tertidur saat menunggu calon pembeli di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). - ANTARA / Sigid Kurniawan

Bisnis.com, MAKASSAR  - Upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk menekan angka inflasi tampaknya belum menuai hasil. Di awal tahun 2020, inflasi justru menghantui Sulsel. Merujuk pada indeks harga konsumen (IHK) dari 5 kabupaten/kota, Sulsel tercatat mengalami inflasi sebesar 0,63 persen.

Kelima kabupaten/kota rujukan tersebut di antaranya Kabupaten Bulukumba, Watampone, Kota Makassar, Parepare, dan Palopo. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel menyebut terjadi kenaikan di lima daerah tersebut dari 103,27 pada Desember 2019 menjadi 103,92 pada Januari 2020. 

 "Inflasi tertinggi terjadi di Kota Parepare sebesar 0,96 persen dengan nilai IHK sebesar 103,80 sedangkan inflasi terendah terjadi di kota Palopo sebesar 0,13 persen dengan nilai IHK sebesar 103,37," jelas Yos, Senin (3/2/2020).

 Yos memaparkan, inflasi gabungan yang terjadi di lima daerah tersebut dipicu adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas, seperti rokok kretek filter, air kemasan, cabai merah, ikan layang, bawang merah, beras, cabai rawit, minyak goreng, rokok putih, ikan cakalang.

Seluruh komoditas tersebut termasuk dalam sejumlah kelompok di antaranya makanan, minuman, dan tembakau dengan kenaikan harga sebesar 2,18 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,35 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,09 persen. Selanjutnya, kelompok kesehatan sebesar 0,84 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,02 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,24 persen.

"Meski begitu, ada juga komoditi yang mampu menahan laju inflasi, yakni tarif angkutan udara, tarif angkutan antarkota, apel, daging ayam ras, bensin, udang basah, petai, sabun mandi, labu parang, jeruk, dan lainnya," terang Yos.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi sulawesi selatan
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top