Pertumbuhan Ekonomi Sulut Terkoreksi Jadi 5,2 Persen per Kuartal III/2019

Dari sisi produksi, realisasi pertumbuhan ekonomi itu sebagian besar didorong oleh lapangan usaha.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 05 November 2019  |  15:27 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Sulut Terkoreksi Jadi 5,2 Persen per Kuartal III/2019
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Ateng Hartono memaparkan data pertumbuhan ekonomi Sulut di Manado, Sulut, Selasa (5/11/2019). - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, MANADO — Provinsi Sulawesi Utara membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada kuartal III/2019, lebih rendah dibandingkan dengan 5,59 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (5/11/2019), dari sisi produksi, realisasi pertumbuhan ekonomi itu sebagian besar didorong oleh lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai sektor jasa lainnya sebesar 20,66 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, yang sebesar 7,27 persen.

Kepala BPS Sulut Ateng Hartono menjelaskan pertumbuhan jasa lainnya didorong oleh peningkatan pendapatan jasa hiburan. Hal itu sejalan dengan penyelenggaraan sejumlah agenda nasional maupun internasional di Bumi Nyiur Melambai.

“Ini berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan di jasa lainnya terutama dari jasa hiburan. Bahkan, pendapatan taman rekreasi juga meningkat sekitar 30,02 persen,” paparnya.

Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi kedua yakni jasa kesehatan dan jasa kegiatan sosial. Untuk jasa kesehatan, realisasi anggaran fungsi kesehatan serta peningkatan pendapatan swasata menjadi pendorong.

Ateng mengungkapkan pertumbuhan tertinggi ketiga ditempati sektor pengadaan listrik, gas, dan produksi es. Realisasi itu dipengaruhi penjualan tenaga listrik dan pembangkit listrik di Sulut yang mengalami peningkatan.

Sebaliknya, dia menyebut terdapat tiga sektor lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan pada kuartal III/2019.

Pertama, industri pengolahan. Kontraksi pertumbuhan industri pengolahan sejalan dengan ekspor Sulut yang mengalami penurunan, khususnya di sektor industri makanan dan minuman.

“Kalau dicermati, ini terutama terjadi pada HS 15 lemak dan minyak hewan nabati yang terkontraksi. Bahkan, pada September 2019, ekspornya minus,” terang Ateng.

Tergerusnya ekspor, lanjut dia, berimbas terhadap pertumbuhan industri pengolahan Sulut yang menyusut 1,04 persen pada kuartal III/2019. Namun, terdapat beberapa jenis industri yang mengalami pertumbuhan, seperti industri galian bukan logam.

“Peningkatan produksi semen di Sulut mendorong pertumbuhan industri barang galian bukan logam hingga 79,57 persen. Kendati demikian, industri semen belum mendongkrak perekonomian karena kontribusi sektor makanan dan minuman yang besar,” imbuh Ateng.

Selanjutnya, penurunan terjadi pada sektor lapangan usaha administrasi pemerintahan. Hal itu disebabkan capaian serapan APBN dan ABPD yang masih lebih rendah, baik secara kuartalan maupun tahunan.

Sementara itu, sektor lapangan usaha pengadaan air mengalami kontraksi akibat musim kemarau yang terjadi. Kondisi berdampak terhadap penurunan pertumbuhan perusahaan air minum.

Kendati demikian, Ateng menyebut pertumbuhan ekonomi Sulut masih berada di atas nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional naik 5,02 persen secara tahunan dan 4,09 persen secara quarter-to-quarter (qtoq).

“Secara kumulatif Januari—September 2019, perekonomian di Sulut tumbuh 5,73 persen atau berada di atas nasional yang pada periode sama tumbuh 5,04 persen,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, sulut

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top