Sulut Genjot Pembangunan Infrastruktur

Bappeda Sulut menggenjot pembangunan sejumlah proyek infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan investasi di sektor pariwisata dan industri.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  20:09 WIB

Bisnis.com, MANADO –  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Utara menggenjot pembangunan sejumlah proyek infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan investasi di sektor pariwisata dan industri.

Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Sulut Syaloom Korompis mengatakan, pembangunan infrastruktur ditujukan guna memenuhi kebutuhan air, energi, dan jalan. Beberapa proyek diproyeksikan rampung pada tahun depan.

Dua proyek infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan air yang dibangun Pemprov Sulut adalah bendungan Kuwil dan bendungan Lolak. Keduanya diharapkan akan menjadi sumber air baku untuk industri, khususnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Bendungan ini juga diproyeksikan menjadi solusi untuk pengendalian banjir dan menjadi objek pariwisata tirta.

Syaloom menerangkan, pembangunan fisik bendungan Kuwil saat ini sudah mencapai 93% untuk tahap I dan dan 87,7% untuk tahap II. Luas lahan untuk pembangunan bendungan ini mencapai 306 hektare, pembebasan lahan sudah mencapai 72,58%.

“Jadi dari 205 bidang tanah, 156 bidang sudah selesai. Dana pembebasan lahannya dari APBD, sedangkan pembangunannya dari APBN. Bendungan Lolak juga seperti itu. Kami optimistis, Bendungan Kuwil sudah bisa operasi pada tahun depan,” katanya kepada Bisnis, awal pekan ini ini.

Sementara itu, pembangunan bendungan Lolak saat ini sudah mencapai 71,45% dan pembangunan paket II baru mencapai 14,56%. Syalom menambahkan, realiasi pembangunan fisik baru mencapai 55,1%. Dia mengatakan, pembangunan bendungan ini baru akan rampung pada 2021.

“Terdampat area pekerjaan penimbunan untuk area zona 1, 2, dan 3, sedangkan lahan untuk tambahan masih dalam proses pembebasan lahan. Melihat realisasi sekarang, baru 2021 saya kira bendungan ini bisa selesai,” katanya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kapasitas listrik di Sulut dia mengatakan bahwa PLN telah berencana membangun sejumlah pembangkit listrik baru. Kapasitas listrik di Sulut saat ini mencapai 177 megawatt (MW) utnuk energi terbarukan, dan 221 MW untuk non terbarukan.

“Memang masih ada beberapa daerah yang belum kena listrik, tapi semetnara sedang dibangun sejumlah pembangit baru, seperti PLTS di Likupang itu ada 21 MW. Kemudian di Kema ada energi panasbumi 50 MW, kami harapkan itu bisa memberi suplai tambahan untuk mendorong investasi di KEK Bitung,” jelasnya.

Adapun, untuk proyek infrastruktur jalan, Pemprov Sulut tengah menggenjot pembangunan jalan provinsi dari Bandara Sam Ratulangi menuju KEK Pariwisata Likupang sepanjang 31,5 km. Realisasi pengerjaan jalan ini sudah mencapai 30% dan diproyeksikan rampung pada 2020.

Pengembangan sarana transportasi darat juga digencarkan melalui rencana pengembangan jalan Tol Manado-Bitung yang diproyeksikan rampung pada tahun depan. Rencana pengembangan itu, meliputi penambahan ruas baru dari pintu Airmadidi menuju Amurang.

Rencananya, tol sepanjang 56 km itu akan dibangun melalui dana APBN senilai Rp7,02 triliun, atau sekitar Rp124 miliar per km. Jalan tol ini telah diusulkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPMJN) teknokratik yang sedang disusun Bappenas.

“Ini kamu usulkan ke Bappenas untuk paket pembangunan Pak Presiden 5 tahun ke depan, kalau sudah masuk di dalam RPJMN, kami [Pemprov Sulut] akan menganggarkan dana untuk pembebasan lahannya,” ujarnya.

Dia mengatakan, kehadiran jalan tol itu akan berdampak vital terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut. Jalan itu didesain untuk memfasilitasi logistik komoditas unggulan dari sejumlah daerah di Sulut menuju KEK Bitung.

Di sisi lain, Syaloom menuturkan bahwa Pemprov Sulut juga berencana menggenjot belanja pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal itu akan dilakukan dengan meningkatkan anggaran untuk pelatihan vokasional melalui Balai Latihan Kerja milik pemerintah.

Menurutnya, selama ini SDM Sulut banyak tidak terserap oleh industri ada karena tidak adanya kesinambungan program pelatihan dengan permintaan di lapangan. Perbaikan skema dan bidang pelatihan akan menjadi bagian dari fokus pengembangan SDM sulut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infrastruktur, sulut

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top