Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kecewa, Ratusan Korban Gempa dan Likuefaksi Ancam Tidak Bayar Pajak

Aksi itu mereka lakukan sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap pemerintah daerah terutama pusat yang tidak memberikan sepenuhnya hak dan kewajiban kepada korban yang kehilangan sanak keluarga, harta benda dan tempat tinggal saat bencana 28 September 2018 tersebut terjadi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 Juli 2019  |  14:51 WIB
Sebuah baliho Pemilu 2019 terpasang di kawasan pengungsian warga korban bencana gempa dan likuifaksi di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Mohamad Hamzah
Sebuah baliho Pemilu 2019 terpasang di kawasan pengungsian warga korban bencana gempa dan likuifaksi di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Mohamad Hamzah

Bisnis.com, JAKARTA - Ratusan pengungsi korban gempa dan likuefaksi di Kelurahan Balaroa, Kota Palu menyerukan aksi penolakan pembayaran pajak.

Aksi itu mereka lakukan sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap pemerintah daerah terutama pusat yang tidak memberikan sepenuhnya hak dan kewajiban kepada korban yang kehilangan sanak keluarga, harta benda dan tempat tinggal saat bencana 28 September 2018 tersebut terjadi.

"Poin tambahan jangan membayar pajak dalam bentuk apapun. Bagaimana kita mau bayar pajak sementara pemerintah tidak peduli dengan hak-hak kita yang menjadi korban bencana," kata ketua Forum Likuefaksi Balaroa, Abdurahman Kasim dalam rapat akbar yang dihadiri ratusan pengungsi korban likuefaksi Balaroa di Palu, Sabtu (6/8/2019).

Menurutnya percuma jika para pengungsi korban bencana membayar pajak jika hak-hak mereka saja tidak diakomodir. Padahal pemerintah daerah dan pemerintah pusat sebagai pelayan masyarakat wajib untuk menunaikan hak-hak tersebut.

"Belum ada kepastian tentang nasib kita sebagai korban bencana alam, baik itu menyangkut dana Jaminan Hidup (Jadup), hunian tetap, status lokasi milik korban bencana yang terdampak, masih maraknya aksi penjarahan di lokasi likefaksi serta kondisi pengungsi yang hingga kini masih tinggal di tenda-tenda, kos-kosan dan rumah keluarga," jelasnya.

Ia berharap seruan aksi itu mendapat dukungan dan diikuti oleh pengungsi korban bencana lainnya yang mengalami nasib serupa.

Selain itu, dalam waktu dekat mereka juga berencana menggelar aksi besar-besaran mendirikan tenda pengungsian di depan Kantor Wali Kota Palu dan Gubernur Sulawesi Tengah hingga hak-hak mereka ditunaikan oleh pemerintah daerah dan pusat selaku pengambil kebijakan.

"Yang penting aksi demo yang kita lakukan jangan sampai membakar ban, kendaraan dan fasilitas umum karena itu masuk pelanggaran pidana dan hukumnya penjara," katanya.

Memasuki bulan ke sembilan pasca bencana, belasan ribuan pengungsi masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Sebagian terpaksa memilih mengontrak kos-kosan dan tinggal di rumah sanak saudara.

Hak-hak yang seharusnya diterima oleh pengungsi seperti dana jadup, huntara, dana stimulan apalagi huntap juga belum tersalurkan secara merata.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gempa Palu

Sumber : Antara

Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top