Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengapa Cabai Begitu Disukai Masyarakat Sulut?

Pedasnya cabai atau rica menjadi salah satu identitas utama kebudayaan kuliner Minahasa. Rasa pedas diminati karena dinilai cocok dengan kebudayaan kuliner yang sudah ada dan berkembang sebelumnya.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  21:11 WIB
Ilustrasi tanaman cabai merah - Antara/Saiful Bahri
Ilustrasi tanaman cabai merah - Antara/Saiful Bahri

Bisnis.com, MANADO—Pedasnya rica menjadi salah satu identitas utama kebudayaan kuliner Minahasa. Rasa pedas diminati karena dinilai cocok dengan kebudayaan kuliner yang sudah ada dan berkembang sebelumnya.

Sejarawan kuliner Fadly Rahman menuturkan perkembangan persepsi masyarakat terhadap cita rasa pedas di Minahasa sama halnya dengan di Jawa atau Sumatra. Masyarakat menerima cabai sebagai pemedas baru yang lebih dinikmati dibandingkan dengan pemedas sebelumnya.

Sebelum cabai masuk pada abad ke-16, masyarakat Nusantara termasuk Minahasa sudah memiliki pemedas yang berasal dari tanaman endemik Indonesia, seperti jahe dan lada. Namun, cabai lebih disukai karena tidak memberikan rasa panas yang tertinggal di badan.

“Ada tanaman endemik pemedas, seperti jahe, dan lada, tapi seiring dengan kedatangan cabai, persoalan cita rasa berubah. Cabai diterima dan disukai karena punya sensai pedas yang hanya di mulut ini beda dengan lada dan jahe,” tuturnya kepada Bisnis.

Selain persoalan cita rasa, pedasnya rica juga diterima oleh kebudayaan Minahasa lantaran fungsinya yang dapat menghilangkan bau amis dari daging. Kebiasaan masyarakat memakan daging hewan buruan dari hutan memerlukan sentuhan rica.

“Salah satu fungsi dari pemedas, mulai dari jahe, lada, sampai cabai memang berfungsi untuk menghilangkan bau amis dari daging. Ternyata itu yang memang menjadi salah satu alasan mengapa orang Minahasa selalu membaurkan cabai,” tuturnya.

Pasar Beriman di Tomohon, Minahasa, bisa menunjukkan kebudayaan makan daging buruan itu. Pasar ini menjadi perdagangan berbagai macam daging hewan, dari mulai tikus hutan atau kawok, anjing atau rintek wuuk (RW/bulu halus), hingga ular piton.

Berbagai jenis daging tersebut memerlukan bauran rica dan rempah-rempah yang kuat untuk menghilangkan bau amis. Untuk memasak satu ekor RW misalnya, diperlukan sekitar 1 liter atau sekitar 2,7 kg rica yang dicampur dengan serai, jahe, dan bawang daun.

Kebiasaan memakan daging itu telah ada sejak dulu, dan masuknya agama Katolik dan Protestan di Minahasa tidak serta-merta menghilangkan kebiasaan itu, berbeda dengan pola penyebaran agama di Jawa yang menggusur kebiasaan kuliner masyarakat sebelumnya.

“Hal ini menunjukkan bahwa kondisi konsumsi terhadap kuliner itu masih tetap bertahan dari abad ke abad. Gerakan kristenisasi itu tidak serta merta menggusur kebudayaan mereka sebelumnya,” ucap Fadly Rahman.

Sejawaran Universitas Sam Ratulangi Ivan Kaunang berpendapat hal itu juga berkaitan dengan cara penyebaran agama di Minahasa. Kristenisasi di Minahasa membiarkan kebudayaan lokal tetap ada dan berkembang. Bahkan, dalam beberapa contoh kebudayaan lokal juga diadopsi oleh gereja.

Dia mencontohkan bagaimana jaringan gereja Kristen terbesar dan tertua di Minahasa Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) yang mengadopsi simbol kebudayaan Minahasa. Gereja ini menggunakan Manguni sebagai lambangnya.

Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa Kristen dan gereja di Minahasa turut menjadikan kebudayaan lokal sebagai bagian dari gereja. Dia menuturkan gereja di Minahasa tidak memaksa masyarakat menghilangkan kebiasaannya, termasuk memakan daging dari hutan.

Manguni ini adalah bagian dari kepercayaan dan filosofi hidup orang Minahasa. Kemudian gereja mengambilnya sebagai bagian dari Kristen dan gereja. Penyebaran agama tidak memaksa, bahkan banyak tercatat kerja sama antara para pastor dan tonaas [orang yang dituakan],” jelasnya.

Pedasnya rica yang dibawa Eropa dari benua Amerika telah menjadi identitas kebudayaan kuliner Minahasa. Tingginya konsumsi rica terus terpelihara hingga saat ini, bahkan acap kali menjadi sumber penyebab inflasi di Bumi Nyiur Melambai.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner cabai sulut
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top