Sulut Akan Genjot Ekspor Kelapa ke Filipina

Gubenur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyatakan kapal kargo dari Filipina melalui rute Davao General Santos dan Bitung akan kembnali berlayar mulai awal semester II/2019 untuk memfasilitas ekspor kelapa.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  19:15 WIB
Sulut Akan Genjot Ekspor Kelapa ke Filipina
Pekerja membelah kelapa untuk dibuat kopra di Desa Sibedi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (13/5/2019). Setelah turun dari rata-rata Rp11 ribu menjadi Rp7.500 per kilogram, kini harga kopra anjlok lagi ke level terendah pada tingkat petani yakni Rp3.500 - Rp4.000 per kilogram karena persediaan di pasar global meningkat. - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, MANADO — Gubenur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyatakan kapal kargo dari Filipina melalui rute Davao—General Santos—dan Bitung akan kembali berlayar mulai awal semester II/2019 untuk memfasilitas ekspor kelapa.

Dia mengatakan, pelayaran tersebut akan dilakukan setelah Sulawesi Utara mendapatkan izin untuk melakukan ekspor kelapa utuh, tidak perlu lagi diolah terlebih dahulu menjadi kopra. Menurutnya, skema ekspor ini akan lebih menguntungkan para petani kelapa.

“Kalau kopra itu sekitar 6—5 butir hanya jadi 1 kilo kopra, kalau petani jual masih cuma biji dihargai sekitar Rp2.000 perbutir itu sudah lebih bagus untuk para petani,” jelasya di Manado, Senin (20/5/2019).

Menurutnya, hal itu juga akan lebih menggairahkan industri kelapa yang menjadi produk ekspor unggulan Sulut. Dengan ekspor dalam bentuk kelapa, para petani tidak akan lagi terancam oleh gonjang-ganjing harga jual kelapa di pasar dunia yang masih belum stabil.

Dia mengatakan, permintaan kelapa dari Filipina khususnya cukup besar karena industri pengolahan kelapa di negara tersebut sudah jauh lebih berkembang dari Indonesia. Pengolahan tidak hanya terbatas pada pengolahan tepung, atau minyak kelapa saja.

“Setelah saya selidiki, karena di Filipina ini produk kelapa sudah ada sampai 12 turunan ke bawah. Tempurung dipakai, hampir semua bagian kelapa dipakai. Maka dari itu, untuk kelapa sudah ada solusi pasarnya untuk genjot ekspor,” katanya.

Dia mengatakan kapal RoRo yang akan kembali datang ke Sulut adalah kapal yang berukuran lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Dia optimistis, kapal tersebut akan menjadi mitra dagang strategis bagi para eksportir Sulut.

“Izin kapalnya dulu tidak jalan karena terlalu besar RoRonya, sekarang diganti lebih kecil, kalau dulu izin perdagangan kelapa biji belum bisa sekarang sudah bisa, sehingga pemenuhan kapal roro itu bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Olly menerangkan, kapal tersebut tidak hanya akan mengangkut barang dari Sulut tetapi juga membawa barang masuk ke Indonesia. Menurutnya, Bitung diharapkan dapat menjadi tempat masuk produk impor dari China untuk masuk ke Indonesia.

Dengan demikian, dia mengharapkan, barang impor tidak mesti dikirim melalui Surabaya, atau Makassar terlebih dahulu untuk sampai ke Bitung. Hal ini diharapkan dapat memaksimalkan posisi Bitung yang berada di bibir laut pasifik.

“Dia bawa barang juga, yang selama ini produk banyak dari Makassar, Surabaya itu kan dari China, nanti kami barang yang biasa impor ke jakarta jadi lewat sini barangnya, jadi jalurnya RoRo, nanti kami juga akan buka rute Hong Kong—Bitung—Surabaya,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
filipina, kelapa, sulut

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top