Nasabah Bank Muamalat Sulampua Tumbuh Atraktif

Tren pemanfaatan produk syariah Bank Muamalat berada pada grafik yang atraktif.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  13:23 WIB
Nasabah Bank Muamalat Sulampua Tumbuh Atraktif
Karyawati Bank Muamalat melayani nasabah di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MAKASSAR – Tren pemanfaatan produk syariah Bank Muamalat berada pada grafik yang atraktif. Indikator yang paling mendominasi atas pertumbuhan itu, terlihat pada sisi jumlah nasabah.

Regional Head Bank Muamalat Indonesia (BMI) Sulampua, Ahmad S Ilham mengatakan, memasuki 2019 ini jumlah nasabah meningkat cukup siginifikan, terlebih pasca digaungkannya kampanye #AyoHijrah.

"Di wilayah Sulampua, Makassar menjadi pasar yang paling tinggi menorehkan kinerja inklusifitas nasabah mengikuti tren preferensi jenis layanan perbankan yang disediakan," ungkap Ilo sapaan akrab Ilham, Rabu (20/2/2019).

Ilo merincikan, sebelumnya rata-rata pertumbuhan nasabah baru di Makassar hanya berkisar 3.000 hingga 3.500 nasabah per tahun, namun terjadi kelonjakan hingga 300% dengan total nasabah baru mencapai 15.000 per tahun 2017 hingga 2018.

Selain Makassar kata Ilo, daerah lain dalam wilayah kerja Regional Sulampua juga menunjukkan pertumbuhan nasabah baru cukup tinggi, namun tidak cukup signifikan di banding Makassar.

"Sebagai agregator dan hub di wilayah timur Indonesia, Makassar memang yang paling signifikan pertumbuhan nasabah baru," jelas Ilo.

Ia mengakui, pertumbuhan inklusi produk syariah itu merupakan hasil kolaborasi Bank Muamalat bersama beberapa pihak untuk turut menggencarkan literasi keuangan berbasis syariah yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di era kekinian.

Di sisi lain, Ilo juga mengakui jika utilitas produk keuangan syariah tidak paralel dengan potensi pasar yang ada. Yang mana sebagian besar pelaku industri perbankan syariah cenderung selalu melakukan konsolidasi.

"Secara otomatis nasabah juga menahan penetrasi produk dan kemudian membuat industri terperangkap dalam stagnasi," beber Ilo.

Adapun konsolidasi yang dimaksud yakni perbaikan kualitas aktiva produktif, penyempurnaan end to end business process, penghimpunan low cost fund, peningkatan kapabilitas SDM dan permodalan.

Ilo mencontohkan, di Sulsel perbankan syariah terjebak pada angka psikologis 5% pangsa pasar. Sangat lekat, ibaratnya sulit lepas sehingga laju perbankan syariah stagnan di 5% itu. Kondisi ini juga sebenarnya terjadi pula di tataran nasional.

"Tapi kami dari BMI tidak akan larut dalam bayang-bayang 5% dan hal itu sudah dimanifestasikan perseroan dengan serangkaian upaya memperbesar cakupan nasabah sejak 2017 silam, terkhusus di Regional Sulampua, utamanya di Sulsel," terang Ilo.

Paling utama lanjutnya lagi, BMI hadir untuk memberikan kemaslahatan besar kepada umat, fastabiqulkhairat dan saling menguntungkan termasuk dari sisi bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank syariah, bank muamalat

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top