Kelangkaan Semen di Palu Masih Berlanjut

Kelangkaan semen di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah hingga kini masih terus berlanjut dan semakin meresahkan masyarakat karena bahan bangunan itu sangat dibutuhkan.
Newswire | 26 November 2018 13:08 WIB
Seorang bocah melongok di dekat box culvert (kotak saluran air) untuk drainase yang baru diperbarui di salah satu kompleks perumahan di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (19/11/2018). Pemerintah setempat mulai menata kembali lingkungan perumahan yang fasilitasnya rusak. - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, PALU – Kelangkaan semen di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah hingga kini masih terus berlanjut dan semakin meresahkan masyarakat karena bahan bangunan itu sangat dibutuhkan.

"Bagaimana kami mau membangun maupun memperbaiki rumah yang rusak akibat gempa bumi, jika semen tidak ada di pasaran," kata Jusman, seorang warga di wilayah Lagarutu, Kecamatan Mantikulore, Senin (26/11/2018).

Ia mengatakan rumahnya rusak berat diterjang gempa bumi pada 28 September 2018. Ada banyak rumah warga di wilayah tersebut yang terdampak bencana alam itu.

Untuk sementara ini, kata dia, warga yang rumahnya rusak terpaksa rela tinggal di tenda-tenda darurat.

Dia mengatakan belum bisa membangun kembali karena bahan bangunan selain harganya naik tajam, juga semen hingga kini masih langka di pasaran setempat.

"Tetangga saya sudah sepekan ini keliling semua toko pengecer bahan bangunan di Palu, tetapi tidak berhasil mendapatkan semen," katanya.

Dengar-dengar informasi sebenarnya semen dari pabrik tetap masuk di Palu, tetapi karena permintaan meningkat, stok cepat habis terjual.

Seorang pengecer bahan bangunan di bilangan Jalan Touwa Palu mengatakan permintaan bahan bangunan termasuk semen selama pasca gempa,tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala dan Sigi luar biasa.

Masyarakat yang datang membeli berbagai jenis bahan bangunan saban hari cukup ramai. Sebelum bencana alam permintaan normal.

Tapi setelah adanya bencana, permintaan meningkat drastis baik untuk kebutuhan pembangunan/perbaikan rumah warga, juga pembangunan huntara (hunian sementara) untuk korban gempa,tsunami dan likuifaksi.

"Bayangkan saja semen baru masuk dan hanya dalam tempo setengah jam sudah habis terjual," kata seorang pengecer warga keturunan Tionghoa yang enggan disebut namanya itu.

Harga semen di Palu untuk semen merek, tonasa, tiga roda dan bosowa masing-masing dijual pengecer kepada masyarakat Rp70.000/zak. Dalam kondisi normal sebelum gempabumi 7,4 SR yang mengguncang dan memporak-porandakan Palu,Donggala dan Sigi, harga semen di tingkat pengecer Rp65.000/zak.

Sementara di Kabupaten Sigi yang berbatasan langsung dengan Kota Palu, harga semen dijual Rp75.000/zak.

Sumber : Antara

Tag : semen, Gempa Palu
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top