Praktik Penipuan Umrah Murah Ikut Merusak Hubungan Sosial di Sulsel

Praktik penipuan berkedok umrah murah dinilai ikut merusak sendi sosial kemasyarakatan di Sulawesi Selatan.
Amri Nur Rahmat | 11 April 2018 18:25 WIB
Kakanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan Abdul Wahid Thahir (kiri) dan Direktur Operasi Khusus Recovery Abu Tours Rizal Aspan memberikan keterangan kepada wartawan terkait kasus batalnya pemberangkatan jemaah umrah oleh Abu Tours, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/3/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MAKASSAR - Praktik penipuan berkedok umrah murah dinilai ikut merusak sendi sosial kemasyarakatan di Sulawesi Selatan.

Ketua Komisi E Bidang Kesra DPRD Provinsi Sulsel, Kadir Halid mengatakan kegagalan travel umrah bermasalah itu dalam memberangkatkan jemaah, memiliki efek berganda bagi mitra maupun jemaah.

Salah satunya Abu Tours yang gagal dalam pada sisi pemberangkatan jemaah, sehingga ikut memicu gejolak antara mitra agen dan calon jemaah.

"Seperti aduan yang kami terima kemarin, mitra agen ini merasa tidak hanya dirugikan secara materil oleh Abu Tours, tetapi juga silaturrahmi dengan jemaah-nya jadi rusak," katanya saat berbincang dengan Bisnis, Rabu (11/4/2018).

Dia menceritakan, para mitra dari Abu Tours itu menjadi sasaran kemarahan para calon jemaah umrah yang telah menyetorkan dana sesuai dengan paket yang dipasarkan.

Kondisi tersebut akhirnya membuat jalinan silaturrahmi, sosial antara mitra agen dan calon jemaah menjadi tidak harmonis.

Padahal, kata Kadir, menurut para mitra agen Abu Tours itu seluruh dana dari calon jemaah langsung disetorkan ke manajemen Abu Tours sehingga cukup sulit bagi para agen untuk menutupi tuntutan jemaah.

"Kami tentunya akan berupaya melakukan upaya sesuai dengan tupoksi kami. Sangat perlu formulasi yang tepat untuk penyelesaian masalah ini, karena tidak hanya sebatas materil, Abu Tours ini juga merusak sisi sosial masyarakat kita," paparnya.

Di sisi lain, Kadir juga menilai pihak Abu Tours sejak awal cenderung tidak memperlihatkan itikad baik dalam menuntaskan persoalan dengan calon jemaah.

Menurutnya, hal tersebut tercermin dari fasilitasi dengan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama Abu Tours pada medio Januari 2018 lalu.

"Waktu itu saat RDP, mereka [Abu Tours] menjanjikan memberangkatkan seluruh jemaah tetapi tidak juga direalisasikan, malah menerbitkan maklumat yang semakin memberatkan," katanya.

Sebagai tahapan lanjutan, ujar Kadir, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Polda, Kemenag Sulsel, Abu Tours, perwakilan agen dan calon jemaah untuk mencari titik penyelesaian terbaik.

"Termasuk mendata secara detail, berapa jumlah masyarakat Sulsel yang menjadi korban dari Abu Tours ini," katanya.

Dalam kesempatan berbeda sebelumnya, salah satu mitra agen Abu Tours bernama Ema Arfan menceritakan pihak Abu Tours juga cenderung ingin melimpahkan tanggung jawab ke agen.

Sebelum izin operasional Abu Tours dicabut Kemenag, penetapan tersangka serta penyitaan aset oleh Polda Sulsel, lanjut Ema, pihak Abu Tours memang masih terus berupaya memberangkatkan jemaah melalui opsi yang tertuang dalam maklumat.

"Tetapi lucunya, saat jemaah kami ke travel [kantor Abu Tours] saat hendak memastikan pemberangkatan, justru manajemen malah mengalihkan jemaah untuk konfirmasi mitra agen. Padahal dana sudah terhimpun di mereka," ujarnya.

Dia melanjutkan, hal tersebut membuat calon jemaah ikut menaruh ketidakpercayaan terhadap mitra agen sehingga memicu terjadinya gejolak.

"Sehingga harus ada solusi, bagaiman dengan keberangkatan atau dana jemaah kami yang belum berangka. Kami pun sebagai mitra ingin ada kejelasan nantinya. Karena penambahan biaya seperti dalam maklumat juga pernah kami penuhi," papar dia.

Adapun Ema sebagai mitra agen Abu Tours mengklami memiliki sekitar 350 calon jemaah yang belum diberangkatkan Abu Tours meski telah melunasi besaran biaya perjalanan yang dipatok perusahaan tersebut.

Salah satu calon jemaah Abu Tours, Daeng Naing yang berusia 68 tahun mengaku telah melunasi pembayaran paket perjalanan umrah sebesar Rp18 juta sejak tahun lalu.

Abu Tours menjanjikan pemberangkatan medio Februari-Maret 2018 namun tak kunjung terealisasi, bahkan nyaris tertutup sejalan dengan proses hukum yang menjerat Abu Tours disertai pencabutan izin operasional.

Kendati demikian, Daeng Naing masih berharap dirinya diberangkatkan untuk menjalankan ibadah umrah lantaran seluruh dana yang disetor merupakan hasil usahanya dalam beberapa tahun.

"Saya cuma usaha kios kecil, hasil jualan harian saya kumpulkan ditambah dari anak-anak, untuk pembayaran biaya ke Abu Tours," tuturnya.

Menurut dia, jikalaupun tetap tidak memungkinkan untuk diberangkatkan, paling tidak Daeng Naing berharap ada pengembalian dana dari Abu Tours.

Secara kumulatif, korban dari Abu Tours mencapai 86.720 calon jemaah dengan total dana yang terhimpun mencapai Rp1,8 triliun merujuk pada hasil audit investigasi Kemenag.

Sebagian besar korban dari Abu Tours itu berada di Sulsel sebagai basis operasional perusahaan, sedangkan selebihnya tersebar pada 14 provinsi lainnya di Tanah Air.

Tag : sulsel, umrah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top