Investasi Sulut Semester I/2019 Didominasi Sektor Perumahan

Realisasi investasi di Sulawesi Utara sampai dengan akhir semester I/2019 mencapai Rp4,87 triliun untuk 311 proyek, tumbuh 47% secara tahunan. Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menjadi primadona.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  19:53 WIB
Investasi Sulut Semester I/2019 Didominasi Sektor Perumahan
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, MANADO – Realisasi investasi di Sulawesi Utara sampai dengan akhir semester I/2019 mencapai Rp4,87 triliun untuk 311 proyek, tumbuh 47% secara tahunan. Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menjadi primadona.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulut Franky Manumpil menerangkan, realisasi tersebut terdiri dari Rp1,92 triliun Penanaman Modal Asing (PMA) dan Rp2,94 triliun Penanaman Modal Dalam Negari (PMDN).

Realisasi tersebut, lanjutnya, sudah mencapai 45% dari target yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp11 triliun. Adapun, berdasarkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulut, realisasi itu sudah mencapai 130%.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Investasi DPM-PTSP Sulut Janny Rembet menjelaskan, pada kuartal II/2019 penambahan investasi mencapai Rp2,05 triliun. Realisasi ini terdiri dari PMA sebesar Rp906 miliar dan PMDN sebesar Rp1,15 triliun.

Secara umum, sepanjang Januari—Juni realisasi investasi di Sulut didominasi oleh sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran, dan sektor konstruksi. Realisasi masing-masing sektor ini mencapai Rp1,55 triliun dan Rp1,1 triliun.

“Karena di sini bisnis properti sedang tumbuh, ada Ciputra, AKR, belum lagi Paramount, itu sedang bangun banyak unit. Sektor konstruksi ini juga ada satu proyek yang sebenarnya kami input perumahan, tapi dari pusat masuk ke konstruksi,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (12/8/2019)

Kendati demikian, sektor itu lebih banyak dimasukki investor dalam negeri. Aliran investasi asing lebih banyak mengalir kepada sektor listrik, gas, dan air. Investasi asing juga banyak teraslurkan kepada sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi, sektor industri mineral non logam, sektor industri makanan, dan pertambangan.

Dia menjelaskan, realisasi PMA pada sektor listrik, gas, dan air banyak terserap pada proyek pembangkit listrik. Realisasi investasi sektor ini mencapai Rp503,97 miliar, dengan Rp499,62 miliar di antaranya merupakan PMA.

“Investasi ini lebih banyak untuk power plant, di Sulut ada beberapa tempat misalnya di Likupang, di Amurang. Jenisnya ada yang PLTA beberapa, dan mereka baru konstruksi sekarang. Yang banyak ini PLTA, khusus kuartal II ini,” ujarnya.

Berdasarkan daerahnya, Kota Manado merupakan penyerap investasi paling besar di Sulut. Realisasi investasi di Ibu Kota Sulut ini mencapai Rp3,3 triliun. Senilai Rp2,86 triliun di antaranya merupakan PMDN dan sisanya PMA.

Kota Manado juga tercatat sebagai daerah dengan realisasi PMDN tertinggi di Sulut. Namun demikian, realisasi PMA di Manado bukanlah yang teringgi. Kabupaten Mianahasa Utara tercatat memiliki realisasi PMA terbesar pada semester I/2019, yakni Rp800,08 miliar.

Sejauh ini, hanya Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kabupaten Kepulauan Sitaro yang mencatatkan realisasi investasi nihil. Menurutnya, hal ini bisa jadi disebabkan oleh kendala teknis dalam pelaporan investasi.

“Kadang realisasi investasi ada, cuma gagal input laporan karena mungkin sinyal. Kadang juga pelaku usha kurang memahami untuk posisi input, setelah isi laporannya malah tidak valid. Jadi kadang investasi ada tapi karena laporan tidak tercacat, kendala jaringan [internet], kesadaran, dan SDM [sumber daya manusia],” jelasnya.

SEKTOR PERKEBUNAN

Di sisi lain, realisasi investasi pada sektor industri yang berkaitan dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) seperti tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan tercatat hanya Rp9,06 miliar. Investasi pada sektor perikanan juga hanya mencapai Rp499,5 juta.

Menurutnya, ketertarikan investor kepada sektor ini tidak terlalu tinggi karena masih ada sejumlah kendala penghambat investasi. Belum optimalnya operasional pelabuhan Bitung merupakan salah satu kendala utama.

“Salah satu kendala itu ya soal muatan kapal itu, karena dia pikir kalau dia mau investasi siapa yang mau muat? Kalau satu dua kontainer itu mahal, ujungnya melalui ke Surabaya atau Jakarta juga. Bitung belum menjadi tempat dikumpulnya komoditas,” jelasnya.

Namun demikian, secara umum dia optimistis realisasi investasi akan meningkat lebih tinggi pada semester II/2019. Menurutnya, berlalunya proses pesta demokrasi dapat menumbuhkan iklim investasi di Sulawesi Utara.

“Entah karena faktor psikologis, atau bagaimana tapi di semester II/2019 itu biasanya lebih tinggi investasi. Kembali terpilihnya Jokowi sebagai Presiden juga mendorong kepastian bagi dunia usaha, selain itu kadang memang investasi cenderung beriringan dengan belanja pemerintah yang lebih banyak di paruh kedua,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, manado, perumahan, sulut

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top