Pemprov Sulut Optimis Inflasi di Bawah 3 Persen

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara optimistis dapat menjaga inflasi di bawah 3 persen pada akhir tahun ini, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebesar 3,51 persen.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  23:59 WIB
Pemprov Sulut Optimis Inflasi di Bawah 3 Persen
Suasana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Pulisan, Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (4/7/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, MANADO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara optimistis dapat menjaga inflasi di bawah 3 persen pada akhir tahun ini, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebesar 3,51 persen.

Kepala Bagian Ekonomi Kepala Bagian Perekonomian Biro Ekonomi Pemprov Sulut Sonny Runtuwene menjelaskan, meski inflasi tercatat meroket dalam dua bulan terakhir, dia tetap optimistis tingkat inflasi pada akhir tahun dapat dijaga sesuai target.

“Tapi kami masih optimistis akhir tahun ini bisa capai di bawah 3% malah kalau untuk 2019, walaupun memang kami targetkan inflasi Sulut sesuai dengan RPJM itu 3,5±1 persen, kami targetkan masih di bawah inflasi nasional memang,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia menuturkan, pengendalian harga bawang, rica, dan tomat menjadi fokus dalam pengendalian inflasi di Bumi Nyiur Melambai. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan berkoordinasi dengan lembaga lain untuk menjaga stok bahan pokok tersebut.

Dia menyatakan, optimisme menjaga inflasi itu juga berkat harga tiket pesawat yang diprediksi tidak akan mengalami kenaikan tinggi hingga akhir tahun. Hal ini berbeda dengan kondisi tahun lalu di mana kenaikan harga tiket berkontribusi besar terhadap inflasi.

Tomat menjadi momok bagi inflasi Sulut dalam dua bulan terakhir. Kenaikan harganya yang signifikan membuat tingkat inflasi Sulut melambung setelah pada bulan sebelumnya beberapa kali tercatat deflasi. Persoalan pola tanam dan distribusi tomat ditengarai menjadi kendala utamanya.

Sonny mengatakan bahwa berdasarkan pantauan yang dilakukan, hasil produksi tomat banyak yang dikirimkan ke daerah lain. Hal ini menjadi disinsentif bagi Sulut yang sebenarnya tercatat memiliki surplus produksi tomat.

“Dari Bolmong misalnya, ternyata setelah dipantau ternyata tomat ini ada yang keluar ada yang ke Ternate ada yang ke Papua. Hal juga yang membuat harga melonjak, karena kalau hanya kebutuhan di Manado sebetulnya cukup,” jelasnya.

Di sisi lain, menurutnya faktor rantai pasok menjadi penyebab sulitnya pengendalian harga tomat. Pasalnya, dari petani hingga ke tangan konsumen komoditas itu sudah mengalami empat kali perubahan harga. Perubahan terbsar terjadi pada tingkat pedagang pengecer

Menurutnya, kenaikan itu disebabkan oleh kondisi para pengecer yang terjerat piutang kepada rentenir. Tingkat bunga yang tinggi membuat mereka membebankan biaya bunga itu kepada konsumen. Tingkat bunga bisa mencapai 10 persen sehari.

“Mereka itu terjebak rentenir dan bunganya harian, Rp1 juta harus balik Rp1,1 juta dalam sehari, bunganya 10% sehari. Terus terang kami sudah coba kumpulkan pedagang-pedagang ini,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan bahwa margin penjualan di pengecer juga disebabkan oleh biaya retribusi yang tinggi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, Inflasi, sulut

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top