Ekspor Kelapa ke Filipina Disambut Antusias Petani Sulut

Asosiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara mendukung rencana Pemerintah Provinsi untuk membuka kerja sama dagang dengan Filipina yang diharapkan dapat menjadi pasar baru untuk menyerap produksi.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  17:46 WIB
Ekspor Kelapa ke Filipina Disambut Antusias Petani Sulut
/antara

Bisnis.com, MANADO—Asosiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara mendukung rencana Pemerintah Provinsi untuk membuka kerja sama dagang dengan Filipina yang diharapkan dapat menjadi pasar baru untuk menyerap produksi.

Ketua Asosisiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara (Apeksu) George Umpel mengatakan bahwa terbukanya pasar di Filipina diharapkan dapat menyerap produksi kelapa Sulut yang dinilai berlebih. Dia mengharapkan, hal ini akan membuat harga kelapa menjadi lebih kompetitif.

Namun, dia menjelaskan bahwa kelapa yang akan dikirim melalui ekspor tersebut adalah kelapa butir, bukan kopra. Menurutnya, di satu sisi hal itu akan berisiko membuat lapangan pekerjaan pengolahan kopra di Bumi Nyiur Melambai berkurang.

“Dulu saya tidak setuju karena itu akan mengurangi lapangan kerja di Sulut, tapi dengan harga kopra yang terus turun, lebih baik dikirim kalau ada yang beli dalam bentuk kelapa butir, akan lebih menguntungkan petani kelapa,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (23/5/2019).

Dia menjelaskan, harga kopra perkilogram saat ini mencapai sekitar Rp5.500 per kilogram, sedangkan harga jual kelapa per butir hanya sekitar Rp1.100. Adapun, bahan baku kebutuhan produksi kopra per kilogram membutuhkan sekitar 5 butir kelapa.

Sementara itu, pembeli dari Filipina disebutkan akan membeli kelapa dengan harga sekitar Rp2.000—Rp3.000 per kilogram. Dengan demikian, para petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mengekspor kelapa butir langsung ke Filipina.

“Kalau mereka [Filipina] mau ambil dengan harga seperti itu, maka akan menguntungkan petani. Bagi hasil dengan pemetik kelapa juga jadi lebih bagus, selama ini kami agak sulit mencari pemetik karena bagi hasilnya terlalu rendah,” katanya.

Dia mengatakan, rendahnya harga kopra saat ini disebabkan oleh produksi yang dinilai berlebih oleh para pelaku industri pengolahan. Menurutnya, apabila Filipina dapat menyerap kelapa Sulut dengan jumlah besar, ketersediaan kopra diharapkan akan lebih seimbang dan membuat harga akan membaik.

Namun demikian, dia tetap mengharapkan industri pengolahan kelapa di Sulut juga dapat terus berkembang. Pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan untuk memfasilitasi tumbuhnya industri pengolahan kelapa lainnya seperti air kelapa, kopra putih, ataupun nata de coco.

George memaparkan, pembicaraan terkait peluang ekspor ke Filipina tersebut sudah disampaikan langsung oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut. Namun, dia menyatakan belum mengetahui kapan ekspor tersebut dapat terealisasi.

Dia memastikan produksi kelapa di Sulut dapat memenuhi permintaan ekspor dari negara yang dipimpin oleh Rodrigo Duterte tersebut. Produksi kopra per tahun saja, menurutnya dapat mencapai sekitar 6.000 ton.

“Kami berharap ekspor ini dapat segera terealisasi demi meningkatkan kesejahteraan petani, tidak perlu takut juga untuk ketersediaan kelapa bagi industri lokal. Kalaupun berkurang, menurut saya bagus supaya jadi pelajaran untuk mereka agar tidak bisa lagi membeli kelapa dengan murah,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Disperindag Sulut Jenny Karouw menyatakan, peluang ekspor ke Filipina tersebut terbuka setelah kapal RoRo dipastikan akan kembali berlabuh ke Sulut. Selain kopra, diharapkan kelapa tersebut dapat menyerap produksi Jagung.

“Tetapi, kami tetap lihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, tergantung juga B2B [business to business] antara pengusaha dari Filipina maupun dari Sulut,” katanya, kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Gubernur Sulut Olly Dondokambey menjelaskan kapal kargo dari Filipina itu akan melintasi Sulut dengan rute Davao—General Santos—dan Bitung. Rencananya, kapal itu akan melakukan pelayaran pada Juli.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, filipina, kelapa, sulut

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top