Tomat Tunda Inflasi Sulut Jelang Ramadan

Harga bawang dan cabai mulai merangkak naik di Sulawesi Utara menjelang Ramadan. Namun, penurunan harga tomat yang signifikan membuat inflasi masih urung terjadi di Bumi Nyiur Melambai.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  17:31 WIB
Tomat Tunda Inflasi Sulut Jelang Ramadan
Ilustrasi pedagang bawang, salah satu komoditas yang memicu inflasi di Sulawesi Utara. Namun, kestabilan harga tomat menyeimbangkan hingga secara keseluruhan Sulut deflasi. - Antara/Sumarwoto

Bisnis.com, MANADO—Harga bawang dan cabang mulai merangkak naik di Sulawesi Utara menjelang Ramadan. Namun, penurunan harga tomat yang signifikan membuat inflasi masih urung terjadi di Bumi Nyiur Melambai.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut menyatakan bahwa deflasi di Manado pada April sebesar 1,27% merupakan yang terbesar di Indonesia. Deflasi tersebut didorong oleh indeks harga konsumen kelompok bahan makanan yang turun 6,47% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulut Marthedy Tenggehi menjelaskan kelompok bahan makanan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi. Sementara itu, enam kelompok lainnya mengalami inflasi.

Dia memaparkan bahwa komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi Manado adalah tomat sayur, sebesar 1,31%. Penurunan harga komoditas tersebut, menutupi andil komoditas lain yang mengalami inflasi.

“Ternyata tomat sayur memberikan andil yang cukup besar, jadi deflasi ini lebih disebabkan oleh turunnya harga tomat sayur, kalau itu tidak turun, maka Manado akan mengalami inflasi,” katanya di Manado, Kamis (2/5/2019).

Menurutnya, kondisi ini patut diwaspadai menjelang Ramadan dan Idulfitri yang akan datang pada Mei dan awal Juni. Pasalnya, harga bawang merah, bawang putih, dan cabai atau rica mulai menunjukkan kenaikan pada April.

Bawang merah memiliki sumbangan terbesat terhadap inflasi sebesar 0,16%, bawang putih 1,14%, dan cabai merah sebesar 0,02%. Bawang, rica, dan tomat atau sering disebut barito, merupakan tiga komoditas utama yang memengaruhi laju inflasi di Sulut.

“Kemungkinan perubahan harga sudah terjadi di Mei karena sudah masuk puasa. Masih perlu waspada terhadap terjadinya inflasi karena barito itu masih cukup terkendali karena harga tomat yang turun. Rica dan bawang justru inflasi, tapi masih diimbali oleh harga tomat yang turun,” jelasnya.

Dia menjelaskan penurunan harga tomat itu seiring dengan musim produksi yang mencapai puncak pada April. Di beberapa daerah penghasil tomat, lanjutnya, para petani mulai membiarkan tomat membusuk karena harga di pasar sudah terlalu rendah.

Marthedy menuturkan hal itu juga tercermin nilai tukar petani (NTP) di subsektor hortikultura yang menurun 0,88% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan subsektor tersebut menjadi yang terdalam dibandingkan dengan subsektor pertanian lainnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut juga telah mewanti-wanti peranan barito dalam menjaga inflasi menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Kepala Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan berdasarkan data historis ketiga komoditi tersebut memberi dampak paling besar.

“Kalau kita lihat datanya, fluktuasi yang tajam dalam inflasi di Sulut disebabkan oleh Barito, kalau dibuang dari penghitungan inflasi, maka grafiknya akan lebih stabil tidak terlalu bergejolak. Maka, kalau bisa amankan harga barito amanlah inflasi Sulut,” katanya, Selasa (30/4/2019).

Menurutnya, kenaikan harga menjelang Ramadan tidak dapat dihindari sebab didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat. Namun, seringkali kenaikan harga dipengaruhi oleh faktor permintaan di daerah lain.

Beberapa produsen bahan pokok, lanjutnya, sering kali mengirimkan barang dagangannya ke luar daerah Sulut untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi. Dalam kondisi tertentu, hal ini membuat inflasi di Sulut meningkat di luar batas normal.

“Bukan diharamkan menaikkan harga, tapi sewajar-wajarnya saja. Jangan sampai di daerah lain harganya lebih tinggi, malah dijual di sana sehingga harga di sini jadi naik tiga kali lipat. Perdagangan antarpulaunya dilakukan pada waktu yang salah,” jelasnya.

Menurutnya, faktor lain yang perlu diperhatikan dalam menjaga kenaikan harga bahan pokok adalah faktor cuaca dan pola tanam masyarakat petani. Faktor cuaca yang sulit ditebak akan sangat memengaruhi kuantitas produksi para petani.

Selain itu, dia mengatakan bahwa petani di beberapa daerah memiliki pola produksi yang perlu diantisipasi. Di Kotamobagu, lanjutnya, para petani biasanya tidak berproduksi pada awal Ramadan dan akan memengaruhi pasokan di daerah Sulut.

Arbonas menambahkan aksi para spekulan yang menahan barang pokok juga perlu diantisipasi. Dia meminta satgas pangan agar bertindak tegas terhadap para penimbun barang pokok ini karena sangat memengaruhi pasokan dan harga di masyarakat.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pengamanan Pasar Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Sutriono Edi mengatakan, berdasarkan pemantauan yang dilakukan pada awal pekan ini pasokan beberapa bahan pokok seperti gula dan beras dinyatakan lebih dari menckupi.

Namun, menurutnya memang barito perlu menjadi perhatian khusus bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Dia merekomendasikan, TPID dapat menginisiasi penggunaan mesin penyimpanan produk hortikultura atau yang dikenal dengan controlled atmosphere storage (CAS) untuk mengelola pasokan barito.

“Mesin itu bisa menyimpan bawang lebih lama, bisa disimpan lebih dari 3 bulan. Jadi, saat sedang panen bisa disimpan dan sebagian dijual, sehingga distribusinya untuk daerah yang kekurangan bisa terpenuhi juga. TPID akan bahas itu dalam raat bersama Gubernur Sulut,” jelasnya.

Di luar itu, menurutnya TPID perlu lebih intens memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tetap menjaga konsumsi secukupnya saat Ramadan dan lebaran. Edukasi kepada distributor terkait dengan harga eceran tertinggi (HET) serta larangan penimbunan pasokan juga perlu diperhatikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, deflasi, sulut, harga sembako

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top