Kadin Sulut Minta Ekspor Jadi Program Prioritas Selain Pariwisata

Kamar Dagang dan Industri Indonesia menyampaikan sejumlah usulan untuk mengerek kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Sulawesi Utara.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 16 September 2019  |  17:50 WIB
Kadin Sulut Minta Ekspor Jadi Program Prioritas Selain Pariwisata
Ilustrasi-Pantai Pulisan di Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Lokasi ini ditetapkan menjadi KEK Pariwisata dan akan mengundang investor termasuk dari luar negeri. - Antara

Bisnis.com, MANADO— Kamar Dagang dan Industri Indonesia menyampaikan sejumlah usulan untuk mengerek kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Sulawesi Utara.

Wakil Ketua Kamar Dagang Industri dan Industri Indonesia (Kadin) Sulut Ivanry Matu menilai terdapat beberapa langkah yang perlu ditempuh untuk menggenjot kinerja ekspor nonmigas Sulut. Salah satunya perlu dilakukan penyusunan road map atau peta jalan ekspor Sulut secara terpadu dari hulu hingga ke hilir. 

“Jadikan ekspor salah satu program prioritas unggulan selain sektor pariwisata serta para pemangku kepentingan dilibatkan secara aktif,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/9/2019).

Selanjutnya, dia menyarankan agar produk unggulan pertanian harus dipasarkan ke seluruh dunia. Kerja sama dapat ditempuh dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di setiap atase perdagangan kedutaan Indonesia.

“Langkah ini didukung dengan peningkatan kapasitas produksi dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pemerintah juga perlu memfasilitasi akses kegiatan ekspor. Hal itu meliputi perizinan, pengetahuan, serta pembiayaan.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag Sulut) Darwin Muksin menilai terdapat beberapa penyebab tergerusnya ekspor nonmigas Sulut. Salah satunya faktor memanasnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Selain itu, lanjut dia, terdapat produk subsitusi untuk produk andalan Sulut di Eropa. Kondisi itu menurutnya menjadi salah satu penyebab turunnya permintaan ekspor komoditas utama seperti minyak kelapa.

“Pada bulan-bulan tertentu, permintaan kemungkinan menurun sekian ton karena ada produk yang menjadi substitusi,” jelasnya.

Pihaknya berharap tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China dapat mereda. Dengan demikian, hal itu akan berdampak positif terhadap permintaan ekspor Indonesia termasuk Sulut. 

Selain itu, Darwin menyebut peningkatan kualitas produk juga harus dilakukan oleh para pelaku usaha. Langkah tersebut untuk memastikan kepercayaan dan keberlanjutan pemesanan para pembeli di negara tujuan ekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, impor, kadin

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top