Bisnis.com, MAKASSAR - Jalur perdagangan internasional dari wilayah timur Indonesia terus berkembang usai Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Pantoloan resmi melayani direct call ekspor tanpa transit terlebih dahulu di Jawa.
Pelabuhan Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel) melayani pelayaran langsung ke beberapa negara Asia Timur dan Asia Tenggara, sementara Pelabuhan Pantoloan di Sulawesi Tengah (Sulteng) melayani pengiriman langsung ke China dan Filipina.
Direct call ekspor ini diproyeksi akan meningkatkan daya saing komoditas unggulan karena lebih menghemat biaya dan waktu tempuh pengiriman.
Meskipun demikian, sejumlah tantangan masih menghantui pengembangan layanan ini.
Executive Director 4 Pelindo Regional 4, Abdul Azis, mengungkapkan bahwa saat ini belum banyak industri besar yang ada di wilayah Timur.
Bahkan berdasarkan catatannya, di wilayah seluas Sulawesi hingga Papua, cakupan industrinya hanya sekitar 10% dari total secara nasional.
Baca Juga
Minimnya keberadaan industri ini bisa membuat daya saing produk asal wilayah timur terkikis karena tidak ada nilai tambah, serta perluasan akses perdagangan ke pasar global pun jadi tidak mudah.
Di sisi lain, komoditas unggulan yang selama ini menjadi andalan ekspor, keberadaannya tersebar di banyak daerah. Jadi untuk memenuhi kuantitas yang diperlukan, pihak pengekspor kadang harus mengumpulkan komoditasnya dalam satu lokasi terlebih dahulu.
Proses mengumpulkan komoditas inilah yang menjadi hambatan karena kerap terkendala akses. Akibatnya kuantitas komoditas yang dibutuhkan biasanya tidak bisa konsisten memenuhi permintaan pengiriman.
Dua persoalan utama ini cukup menghantui pengembangan direct call ekspor. Oleh sebab itu Pelindo saat ini sedang gencar membangun komunikasi dengan para pemerintah daerah, terutama mengakselerasi pengembangan berbagai industri komoditas unggulan dan memperlancar konektivitas antar daerah.
"Makanya kami mendorong terlebih dahulu kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan industri serta mempermudah akses konektivitas pengangkutan komoditas ke pelabuhan. Jika hal tersebut teratasi, maka pengembangan direct call ekspor pasti akan menggeliat," kata Abdul Azis kepada Bisnis, Minggu (26/10/2025).
Terpisah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menyebut potensi ekspor komoditas asal wilayah timur sebenarnya sangat besar, namun perlu ada pembenahan menyeluruh yang bisa dilakukan oleh semua stakeholder.
Misal kualitas barangnya mesti dibenahi hingga menjamin kontinuitas. Dua hal ini menjadi aspek penting dalam pemenuhan permintaan internasional.
"Kebanyakan UMKM-UMKM kita itu terkendala masalah kuantitas dan keberlangsungan untuk memproduksi barangnya dengan kualitas yang bagus. Kalau ini tidak bisa konsisten maka ekspor pasti mandek," jelasnya.
Selanjutnya adalah promosi yang perlu dilakukan secara masif dan terstruktur, utamanya melalui bantuan pemerintah. Promosi ke luar negeri bisa dilakukan melalui kedutaan besar di beberapa negara.
Sayangnya, metode promosi seperti ini masih belum banyak dilakukan oleh para pemangku kebijakan di Sulawesi hingga Papua.
Rizki juga menyarankan agar setiap pemangku kepentingan bisa aktif berkoordinasi dengan pemerintah pusat supaya pasar ekspor baru bisa dibuka, utamanya di India, Uni Eropa, dan beberapa negara ASEAN melalui kemitraan dagang strategis dengan produsen global untuk kontrak pasokan jangka panjang.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko dari ketergantungan tunggal ekspor ke Asia Timur.