Jemaah Umrah Rawan Terpapar Covid-19, Ini Kata Ketua Amphuri Sulsel

Dua kasus Corona Jamaah umrah dinilai paling rentan terpapar virus Corona atau Covid-19. Di Sulsel sendiri sejauh ini dari beberapa pasien yang berstatus orang dalam pengawasan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) memiliki riwayat perjalanan melakukan ibadah umrah pada rentan waktu 14 hari lalu.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  19:09 WIB
Jemaah Umrah Rawan Terpapar Covid-19, Ini Kata Ketua Amphuri Sulsel
Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulsel Azhar Gazali. Bisnis - Andini Ristyaningrum

Bisnis.com, MAKASSAR - Jemaah umrah dinilai paling rentan terpapar virus Corona atau Covid-19. Di Sulsel sendiri sejauh ini dari beberapa pasien yang berstatus orang dalam pengawasan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) memiliki riwayat perjalanan melakukan ibadah umrah pada rentan waktu 14 hari lalu.

Bahkan, satu di antara pasien yang dinyatakan positif Covid-19 di Sulsel juga baru saja melakukan ibadah umrah dan tiba di Makassar pada 3 Maret 2020 lalu. Pasien kasu Covid-285 tersebut mengembuskan napas terakhir pada 15 Maret 2020. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para jemaah umrah lainnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulsel Azhar Gazali mengatakan salah satu faktor yang menjadi rentannya jemaah umrah terpapar Covid-19 karena minimnya pemeriksaan setelah jemaah di daerah masing-masing.

"Untuk kepulangan terakhir jemaah umrah setelah adanya pembatasan itu pada 11 Maret lalu. Di situ belum ada pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, baik pengecekan suhu badan maupun tahapan pemeriksaan lainnya," ungkap Azhar, Selasa (24/3/2020).

Padahal menurut Azhar, pada periode itu virus Corona sudah mewabah di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Selain itu, rentan waktu kepulangan terakhir jemaah umrah setelah dilakukan pembatasan oleh Pemerintah Arab Saudi cukup lama yakni selama dua minggu.

Seharusnya pemerintah sudah mengambil langkah antisipasi untuk melakukan pencegahan penyebaran, minimal dengan menyiapkan alat pendeteksi suhu tubuh atau thermal scan. Namun, hal itu sama sekali tidak ditemukan di pintu kedatangan penerbangan internasional Bandara Sultan Hasanuddin.

"Sebelumnya kami sudah sampaikan itu kepada pemerintah. Sekalipun pada saat itu tidak bisa langsung dideteksi bahwa terpapar Covid-19, setidaknya sudah ada upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebarannya," jelas Azhar.

Di sisi lain, akibat pandemi Covid-19, ribuan jemaah Sulsel harus tertunda keberangkatannya ke Arab Saudi. Penundaan itu merupakan keputusan Pemerintah Arab Saudi untuk menyetop sementara masuknya jemaah umrah guna mengantisipasi semakin meluasnya penyebaran virus asal Wuhan tersebut.

Azhar menjelaskan, saat ini pihaknya sudah mengatur pengaturan jadwal ulang di musim depan. Yang mana keberangkatannya dijadwalkan pada September 2020. Ia mengaku bersyukur sebab pihak airlines memahami kondisi yang terjadi saat ini.

"Insyaallah teman-teman bekerjasama dengan airlines mulai mapping untuk kesiapan di bulan September hingga November," kata Azhar.

Merujuk data Kementerian Agama Kantor Wilayah Sulsel, sedikitnya ada 18.000 jemaah yang merasakan dampak penangguhan keberangkatan umrah. Para jemaah diminta untuk tetap bersabar menghadapi kondisi ini hingga keadaan kembali kondusif. (k36)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Virus Corona

Editor : Amri Nur Rahmat
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top