Bulog Targetkan Serap Beras di Sulut & Gorontalo 4.252 Ton

Perum Bulog Divre Sulawesi Utara dan Gorontalo menargetkan tahun ini mampu membeli beras petani di kedua provinsi itu sebanyak 4.252 ton.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  14:44 WIB
Bulog Targetkan Serap Beras di Sulut & Gorontalo 4.252 Ton
Presiden Joko Widodo mengecek stok beras di gudang Bulog di Jakarta pada Kamis (10/1/2019). - Antara/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, MANADO – Perum Bulog Divre Sulawesi Utara dan Gorontalo menargetkan tahun ini mampu membeli beras petani di kedua provinsi itu sebanyak 4.252 ton.

"Kami optimistis mampu menyerap beras petani lokal di Sulut dan Gorontalo sebesar 4.252 ton," kata Kepala Perum Bulog Divre Sulut Sopran Kenedi di Manado, Sulut, pada Kamis (21/2/2019).

Kenedi mengatakan hingga posisi Februari 2019 telah terserap sebanyak 22 ton dari Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Minahasa Utara (Sulut).

Target penyerapan ini, katanya, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami penurunan, karena melihat Sulut dan Gorontalo bukan daerah sentra produksi, apalagi harga jual di tingkat pedagang masih lebih tinggi.

"Jadi, Bulog tidak bisa memaksa petani untuk menjual ke Bulog, karena ini juga untuk kesejahteraan petani itu sendiri," ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, persediaan beras bersubsidi masih relatif tinggi sehingga untuk pengadaan beras lakukan dengan mekanisme beli langsung jual (buy to sell) sehingga harus benar-benar memperhitungkan minimalisasi beban biaya dan beban bunga, serta daya serap pasar terhadap struktur harga penjualan Perum Bulog Divre Sulut dan Gorontalo.

Dia menjelaskan target pengadaan gabah/beras 2018 Perum Bulog Divisi Regional Sulut dan Gorontalo sebanyak 8.500 ton, namun hanya terserap 1.207 ton.

Belum terealisasinya target pengadaan beras 2018 tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain kualitas panen dari petani belum sepenuhnya sesuai standar Inpres No. 5/2015.

Sebab lainnya ialah sarana penggilingan sebagian besar masih tradisional (type one-pass) dan mesin giling dioperasionalkan dengan sistem sewa kepada pemilik penggilingan.

Selain itu, harga beras di tingkat penggilingan cenderung lebih tinggi dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sesuai Inpres No. 5 Tahun 2015 maupun sesuai fleksibilitas harga 10 persen diatas HPP.

Demikian halnya pola tanam dan panen yang cenderung tidak serentak (merata sepanjang tahun), keterbatasan dryer dan pengeringan masih dilakukan secara tradisional (ketergantungan pada sinar matahari) dan Provinsi Sulut & Gorontalo termasuk daerah dengan curah hujan tinggi pada musim panen gadu.

Begitu juga adanya sistem ijon dari petani ke penggilingan. Sebagian besar lahan sawah merupakan sawah tadah hujan serta adanya potensi alih fungsi lahan sawah pertanian menjadi perkebunan jagung dan permukiman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bulog, Stok Beras

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top