Tak Ada Bank, Warga Marore Manfaatkan Kas Keliling BI untuk Tukar Uang Logam

Oleh: Deandra Syarizka 19 Oktober 2018 | 10:10 WIB
Tak Ada Bank, Warga Marore Manfaatkan Kas Keliling BI untuk Tukar Uang Logam
Fernando Sabu (kiri), warga Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menukar uang logam rupiah miliknya dengan uang kertas rupiah yang dibawa tim kas keliling Bank Indonesia (BI), Jumat (19/10)./Bisnis-Deandra Syarizka

Bisnis.com, MARORE -- Warga Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara menukarkan uang logamnya dengan uang pecahan kertas layak edar yang dibawa tim kas keliling Bank Indonesia-TNI AL yang tiba dengan KRI Sultan Iskandar Muda, Jumat (19/10/2018).

Pulau Marore menjadi pulau keempat yang disinggahi tim ekspedisi "Menuju Batas Utara NKRI", setelah sebelumnya mengitari sejumlah pulau di Kepulauan Talaud yaitu Pulau Lirung, Pulau Marampit, dan Pulau Miangas.

Pulau Marore merupakan pulau paling utara di Kepulauan Sangihe yang berbatasan langsung dengan Filipina. Perjalanan dari Pulau Marore menuju Pulau Balut Filipina dapat ditempuh selama 2,5 jam dengan menggunakan kapal.

Petugas Bank Indonesia menghitung uang yang ditukar oleh warga Marore./Bisnis-Deandra Syarizka

Tim yang terdiri dari Bank Indonesia (BI), TNI-AL, dan dua awak media ini melakukan perjalanan selama sepekan sejak bertolak dari Bitung pada Senin (15/10) hingga Senin (22/10) ke tujuh pulau terluar di Sulawesi Utara (Sulut) untuk mendistribusikan rupiah layak edar sekaligus melakukan sosialisasi keaslian mata uang rupiah.

Fernando Subu, salah satu pemilik toko di Pulau Marore, menukarkan kumpulan uang logamnya uang dikumpulkan di dalam stoples.

Total uang yang ditukarkannya mencapai Rp1 juta, terdiri atas uang kertas pecahan Rp100.000  senilai Rp800.000 dan uang logam pecahan Rp500. Semua uang itu ditukarkan dengan uang kertas nominal Rp2.000 dan Rp1.000.

"Warung saya masih menerima uang logam, tetapi anak-anak kalau pecahan logam untuk kembalian tidak mau terima. Maunya uang kertas saja karena uang logam berat dan mudah jatuh atau hilang di pasir," ujarnya.

Menurut Fernando, ini merupakan kali kedua dia menukar uang ke kas keliling BI. Dia mengaku sangat terbantu dengan adanya ekspedisi ini.

Pasalnya, warga Marore biasanya harus menempuh perjalanan 2 hari 1 malam dengan kapal perintis yang datang hanya 2 pekan sekali untuk menikmati layanan perbankan terdekat yang ada di Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Kasir Bank Indonesia melakukan sosialisasi keaslian mata uang rupiah kepada warga Marore dengan menggunakan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang)./Bisnis-Deandra Syarizka

Imelda Lawendatu, Camat Kepulauan Marore, mengucapkan terima kasih kepada BI dan TNI AL atas kunjungan ini. Dia berharap kedatangan tim ekspedisi dapat memberikan kemudahan bagi warga.

"Terima kasih banyak sudah mengunjungi Kecamatan Kepulauan Marore. Ke depannya kami berharap ada layanan perbankan di kecamatan," tutur Imelda.

Jesaja Marthin Richard, Kepala Tim Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah BI Sulut, menjelaskan pihaknya memiliki nota kesepahaman dengan TNI AL untuk melaksanakan "clean money policy" yaitu kebijakan menarik uang tak layak edar dan menggantinya dengan uang layak edar di pulau-pulau terjauh dan terluar Indonesia.

Dia menambahkan uang kertas layak edar yang didistribusikan merupakan Hasil Cetak Sempurna yang langsung dicetak oleh Perum Peruri dan didistribusikan langsung oleh BI ke seluruh Indonesia.

"Kami tidak menargetkan [uang yang ditukar] harus banyak atau ratusan juta. Seberapapun uang kecil, uang lusuh, di pulau ini kami harap bisa kami tarik. Kita ganti dengan uang yang kualitasnya lebih bagus," ungkap Jesaja.

Bank Indonesia menyerahkan bantuan untuk warga Kecamatan Marore./Bisnis-Deandra Syarizka

Menurutnya, sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, mata uang rupiah wajib digunakan di seluruh wilayah NKRI. Penggunaan valuta asing (valas) hanya diperbolehkan untuk transaksi khusus di pasar valas di perbankan dan tidak diperbolehkan untuk transaksi langsung di masyarakat.

"Di Batam sudah pernah ada toko yang kena hukuman pidana karena menerima pembayaran dengan dolar Singapura," jelas Jesaja.

Selain penukaran uang, BI juga kembali menyalurkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa peralatan komputer untuk Kantor Kecamatan Marore serta alat musik dan alat olahraga kepada siswa yang ada di Marore.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya