Gempa Sulteng, Helikopter MI-8 ‘Water-Bombing’ Wilayah Terdampak Likuifaksi

Oleh: Gloria Fransisca Katharina Lawi 18 Oktober 2018 | 17:58 WIB
Gempa Sulteng, Helikopter MI-8 ‘Water-Bombing’ Wilayah Terdampak Likuifaksi
Helikopter MI-8 Water-Bombing Wilayah Terdampak Likuifaksi di Sulawesi Tengah./Dok.BNPB

Bisnis.com, JAKARTA – Helikopter MI-8 memulai melakukan water-bombing atau pengemboman material disinfektan di wilayah terdampak likuifaksi, seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam  keterangan tertulis  Kamis, (18/10/2018), menyebut  pengeboman disinfektan di wilayah Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) berlangsung hari ini.

Pengemboman menjadi langkah yang efektif, karena cakupan wilayah yang luas dan kondisi lapangan yang berpotensi terjadi amblesan. BNPB mengirimkan helikopter untuk membantu operasi ‘water-bombing ‘yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Kementerian Kesehatan dan Kesehatan TNI. 

Pengisian material disinfektan diisi ke dalam ember yang telah dipersiapkan personel TNI melalui mobil tanki.  Penanganan wilayah terdampak likuifaksi tidak hanya melalui pengemboman udara, tetapi juga fogging atau penyemprotan oleh para personel di darat.

Langkah tersebut telah dilakukan di wilayah-wilayah yang dapat dijangkau di Petobo dan Balaroa. Penyemportan juga dilakukan di halaman rumah sakit yang digunakan untuk pengumpulan jenazah yang berhasil dievakuasi, seperti RS Undata, RS Madani, dan RS Bhayangkara.

Tindakan ini merupakan upaya untuk membasmi vektor yang dapat mengancam kesehatan lingkungan. Namun untuk solusi jangka panjang, penimbunan wilayah terdampak likuifaksi harus segera dilakukan. 

Pengeboman maupun penyemprotan disinfektan ini merupakan upaya antisipasi penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat, kecoa, atau tikus. Banyaknya korban meninggal yang diperkirakan masih tertimbun bangunan maupun tanah mendorong upaya antisipasi tersebut.

Di sisi lain, operasi evakuasi korban meninggal telah dihentikan tim gabungan pada 12 Oktober 2018 lalu, meskipun tidak tertutup kemungkinan mereka melakukan operasi evakuasi ketika mendapatkan laporan dari warga. 

Penimbunan wilayah terdampak untuk dijadikan sebagai ruang publik sempat disampaikan pada pembahasan penanganan ke depan. Dikutip dari rilis Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) pada Selasa  (16/10/2018), Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulteng Ridwan Mumu menyampaikan lokasi Balaroa dan Petobo akan ditimbun terlebih dahulu dan ditetapkan sebagai pemakaman massal.

Selanjutnya, pemerintah setempat akan menutup lokasi tersebut dan tidak boleh lagi ada pembangunan karena akan dibuat sebagai kawasan hijau dan monumen di dua lokasi tersebut.

Sementara itu, Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan dr Ahmad Yurianto merekomendasikan penimbunan di wilayah terdampak likuifaksi, seperti di wilayah Petobo yang lapisan tanahnya terangkat akan ditimbun. Cara terbaik adalah menimbun dengan tanah seperti selayaknya memakamkan jenazah dalam kehidupan masyarakat sehari hari. 

“Pertimbangan terbaik dalam penanganan jenazah yang belum diketemukan setelah hari ke-7 adalah dengan tetap memakamkan di lokasi yang diduga jenazah itu berada,” ujar Yurianto 

 

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya