Harga Kopra Mulai Pulih, Ekspor Sulut Merangkak Naik

Oleh: Deandra Syarizka 04 Oktober 2018 | 17:53 WIB
Harga Kopra Mulai Pulih, Ekspor Sulut Merangkak Naik
Proses pengasapan kopra/Antara

Bisnis.com, MANADO— Membaiknya harga kopra di Sulawesi Utara turut mendongkrak kinerja ekspor nonmigas Sulut pada Agustus yang menyentuh US$74,64 juta, tumbuh 4,88% dibandingkan  ekspor Juli yang senilai US$71,17 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara Ateng Hartono menyatakan, dengan nilai impor yang mencapai USD 5,2 juta, maka negara perdagangan Sulut pada Agustus 2018 surplus USD 69,45 juta.

“Ekspor perkebunan, salah satu komoditi andalannya kopra, yang tergabung dalam lemak minyak hewan nabati yang meningkat persentasenya karena harganya mulai pulih,” ujarnya, baru-baru ini.

Dia memaparkan, bila dilihat dari golongan barang, kontributor ekspor tertinggi masih diduduki oleh komoditi lemak dan minyak hewani/nabati, bahkan pada bulan Agustus terjadi kenaikan persentase menjadi 54,77% dari total nilai ekspor, dibandingkan dengan pada bulan yang lalu yang masih dibawah 50%.

Golongan barang tersebut diekspor ke enam negara tujuan, yaitu: Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Malaysia, Amerika Serikat dan Belanda.

Dia menambahkan, Belanda menjadi negara teratas tujuan ekspor Sulawesi Utara pada Agustus,  yang nilainya mencapai menggeser China yang selama ini bertengger di urutan utama sebagai negara tujuan ekspor.  Total ekspor nonmigas Sulut ke Belanda sejak Januari-Agustus mencapai USD 155,68 juta, sedangkan ekspor ke China mencapai USD98,71 juta.

Adapun secara kumulatif, total ekspor nonmigas Sulut sejak Januari-Agustus nilainya mencapai USD 677,16 juta, tumbuh dari periode sebelumnya sebesar USD663,32 juta.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Hanny Wajong menyatakan, harga kopra di sentra perdagangan Kota Manado mulai membaik sejak Agustus.

Dia memaparkan, setelah sempat anjlok hingga menyentuh Rp5.400 per kilogram, harga rata-rata perdagangan kopra di pasar tradisional seperti Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Kota Manado mulai merangkak naik di angka Rp6.200 per kilogram.

"Di pertengahan Agustus 2018 harga kopra mulai bagus, yakni diperdagangkan Rp6.200 per kg," katanya.

Meski menguat, dia mengakui harga tersebut belum kembali ke harga wajarnya di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Dia mengaku, pihaknya tidak dapat mengendalikan harga kopra karena pergerakannya mengikuti harga pasar dunia.

"Memang harga sekarang belum pada harga terbaik, tetapi tren kenaikannya sudah mulai terlihat," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey meyakini turunnya harga kopra sebagai produk turunan kelapa hanya berlangsung sementara.

Penurunan itu disebabkan mekanisme pasar minyak dunia dan saat ini, kelapa bukan satu-satunya hasil perkebunan yang dapat diolah menjadi minyak.

Dia pun optimistis, nilai komoditas unggulan bumi nyiur melambai itu bakal merangkak naik menjelang akhir tahun, mengikuti siklus pasar minyak dunia. Di lain sisi menyebut, selain kopra banyak produk bernilai lainnya yang dapat dihasilkan dari kelapa.

"Pemprov Sulut juga sedang mempersiapkan alat produksi kopra menjadi minyak kelapa langsung dan industri sabut kelapa. Nantinya turunan produk kelapa tidak hanya kopra saja tapi bisa dijadikan produk lainnya," ujarnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya