Sulsel-Jepang Jajaki Kerja Sama Impor Bunga Sakura

Oleh: Andini Ristyaningrum 29 Agustus 2018 | 08:09 WIB
Sulsel-Jepang Jajaki Kerja Sama Impor Bunga Sakura
Bunga Sakura bermekaran./Ilustrasi-linxinjapan.wordpress.com

Bisnis.com, MAKASSAR – Selama 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang, berbagai kerja sama telah dilakukan baik dalam hubungan diplomatik maupun perekonomian.

Sejak penandatanganan Perjanjian Perdamaian pada 1958, Jepang bagi Indonesia merupakan negara mitra dagang terbesar, utamanya dalam sektor ekspor impor.

Memperingati 60 tahun kerja sama antarkedua negara tersebut, Pemerintah Jepang menggelar simposium di lima kota besar di Indonesia, salah satunya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kepala Kantor Konsular Jepang di Makassar, Katsutoshi Miyakawa mengatakan, di 2018 ini khusus untuk wilayah Sulsel, Pemerintah Jepang dan Pemerintah Provinsi Sulsel akan menjajaki sebuah kerja sama baru yaitu budi daya bunga sakura Sulsel.

"Tahun ini, kami sudah merancang kerja sama tersebut bersama Gubernur Sulsel terpilih, Nurdin Abdullah. Rencananya Jepang akan mengimpor 300 bibit bunga sakura ke Sulsel," kata Katsutoshi pada Simposium yang berlangsung di Hotel Sahid Makassar, Selasa (28/8/2018).

Kerja sama impor dan budidaya bunga sakura ini dinilai akan menunjang potensi pariwisata di Sulsel. Menurut Kasutoshi, masyarakat Sulsel maupun wisatawan domestik, tidak perlu lagi jauh-jauh lagi ke Jepang untuk menyaksikan keindahan bunga simbol kebahagiaan itu.

Setiap tahunnya ada sekitar 400 ribu orang Indonesia yang berkunjung ke Jepang, denagan tujuan utama adalah kuliner, sementara kedua adalah minat untuj melihat langsung bunga sakura.

"Itu berarti orang Indonesia sangat mencintai sakura juga sebenarnya. Tapi sayangnya di Indonesia kan tidak ada sakura. Pernah ada di Kebun Raya bogor, tapi itu sekitar tahun 1962," jelas Katsutoshi.

Di Sulsel pada 2012 lalu, upaya budi daya bunga sakura juga pernah dilakukan di Malino, Kabupaten Gowa. Namun, uji coba budidaya 600 bibit bunga sakura gagal dan tidak bisa bermekaran layaknya di Jepang. Olehnya itu kali ini, pemilihan lokasi tanam akan lebih dicocokkan lagi.

Lokasi yang dipilih untuk budidaya bunga sakura ini adalah Toraja Utara, di mana wilayah tersebut dinilai memiliki iklim yang cocok untuk pengembangan bunga sakura. Katsutoshi menjelaskan, menanam bunga sakura memang butuh kehati-hatian.

Rencananya, penyerahan 300 bibit bunga sakura akan dilakukan pada 26 November 2018 kepada Gubernur Sulsel. Setelahnya, penanaman akan dilakukan dengan pemilihan tanah terbaik.

"Kita akan tunggu sampai bunganya berakar, sampai kuat, lalu akan kita pindahkan ke lokasi-lokasi yang juga punya potensi yang sama untuk mengembangkan bunga sakura. Misalnya di Malino," terang Katsutoshi.

Proses untuk menunggu bunga sakura berkembang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Untuk tumbuh dan mekar, bunga yang identik dengan warna pink itu membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun dari masa tanamnya.

"Kami harap ini juga jadi potensi destinasi wisata baru di Sulsel untuk meningkatkan kunjungan wisatawan," kata Katsutoshi.

Selain meningkatkan potensi pariwisata di Sulsel, ia juga mengatakan budidaya bunga sakura ini juga akan menjadi simbol kerja sama 60 tahun kerja sama Indonesia-Jeoang. Termasuk menjadi simbol persahabatan kedua negara tersebut.

Tak tanggung-tanggung rencana impor 300 bibit bunga sakura ke Sulsel ini juga telah disampaikan kepada Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Kerja sama ini akan dilakukan bersama Ehime Toyota Motor Corporation yang juga bergerak untuk Asosiasi Bunga Sakura di Jepang.

Staf Ahli Gubernur Sulsel Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, Sub Bidang Pembangunan Denny Irawan Saardi mengaku menyambut baik rencana kerja sama dari pemerintah Jepang. Terlebih jika kerja sama tersebut mampu menyerap tenaga kerja di Sulsel.

"Dengan adanya kerja sama dan hubungan erat antara Jepang-Indonesia, dan Sulsel masuk di dalamnya, minimal ini akan memberi dampak yang bagus untuk peningkatan sumber daya yang ada," ungkap Denny.

Di 60 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia kata Denny, Sulsel telah memperoleh banyak manfaat, antara lain transfer of knowledge untuk sumber daya yang ada di Sulsel.

Ke depan dengan hubungan yang lebih baik lagi diharapkan akan berkembang industri-industri yang lebih ramah lingkungan dan lebih maju, juga modern seperti di Jepang.

"Ujung-ujungnya juga akan berpengaruh ke peningkatan kesejahteraan masyarakat kita. Jadi, saya kira ini sangat bagus manfaatnya, termasuk simposium yang digelar hari ini," terang Denny.

Diketahui, acara yang diselenggarakan di Makassar kali ini merupakan yang ketiga kalinya setelah Jakarta dan Denpasar. Selanjutnya peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia akan digelar di Medan dan Surabaya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya