BANK SULSELBAR Tak Sekadar Mengejar Pertumbuhan

Oleh: Amri Nur Rahmat 06 Agustus 2018 | 07:32 WIB
Kantor Bank Sulselbar di Makassar, Sulawesi Selatan./Ilustrasi

Bisnis.com, MAKASSAR – Bank Sulselbar merealisasikan sejumlah rangkaian penetrasi pada paruh pertama tahun ini yang diproyeksikan menjadi landasan dalam memacu pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Sederet inovasi serta penguatan internal dilakukan perseroan tersebut membuat kinerja sepanjang semester pertama 2018 cenderung tertahan pada beberapa indikator bisnis. Misalnya saja perolehan laba bersih yang hanya melaju 2,21% per Juni 2018 dengan nilai sebesar Rp278,059 miliar.

Kondisi tersebut sebagai konsekuensi dari ekspansi yang dilakukan perseroan sehingga berdampak pada posisi beban operasional yang bergerak 5,22% menjadi Rp407,68 miliar per Juni 2018 secara tahunan (YoY).

Kinerja Bank Sulselbar Semester I/2018
IndikatorRealisasiGrowth
AsetRp25,51 Triliun6,07%
Kredit Rp14,87 Triliun14,38%
DPKRp15,86 Triliun-0,62%
Laba BersihRp278,05 Miliar 2,21%
Sumber: Bank Sulselbar

Menurut Head of Treasury Group Bank Sulselbar Irmayanti Sulthan, torehan kinerja pada paruh pertama di tahun ini sebenarnya telah berada pada jalur ekspektasi dan perencanaan perseroan.

Bahkan, kata dia, laju pertumbuhan laba bersih yang tercatat tersebut melampaui ekspektasi yang tertuang adalam RBB untuk 2018 ini. Adapun pada Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan pada tahun ini, konservatif dengan target koreksi 0,61% untuk laju pertumbuhan laba.

Bukan tanpa alasan, proyeksi itu sejalan dengan perencanaan Bank Sulselbar yang mencanangkan 2018 sebagai tahun momentum melalui sederet implementasi inovasi bisnis serta penguatan pada berbagai lini.

"Beragam inovasi produk kami lakukan di semester pertama dan akan berlanjut di paruh kedua ini. Kemudian di enam bulan ini kami juga telah mengimplementasikan layanan dan berbasis digital," katanya kepada Bisnis usai pemaparan kinerja, Jumat (3/8/2018).

Penyiapan infrastruktur penunjang untuk digitalisasi layanan dan produk diakui cukup memengaruhi pos beban operasional perseroan, di samping penguatan berkaitan dengan SDM maupun bidang lainnya.

Sebagai informasi, digitalisasi yang dilakukan perseroan pada paruh pertama 2018 ini di antaranya implementasi layanan Transaksi Non Tunai (TNT) pada pemda di Sulsel dan Sulbar, lalu penyiapan mobile dan internet banking, penyelarasan standarisasi kartu debit berbasis chip dan GPN serta beberapa hal lainnya.

Irmayanti menguraikan, digitalisasi menjadi hal mutlak yang dilakukan perseroan agar menjaga dan meningkatkan daya saing pada industri perbankan yang diharapkan menjadi landasan dalam memacu kinerja berkelanjutan.

Pada sisi lain, ekspansi yang dilakukan pada paruh pertama 2018 itu tidak lantas membuat rasio BOPO Bank Sulselbar membengkak signifikan. Justru perseroan tetap mampu mempertahankan predikat sebagai BPD efesien di Tanah Air dengan posisi rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) turun 15 bps menjadi 69,09% per Juni 2018 (YoY).

Performa tersebut tidak lepas dari langkah perseroan yang menekan beban bunga hingga menjadi Rp401,39 miliar atau turun sebesar 16,21% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp479,05 miliar.

Irmayanti mengemukakan, pihaknya mulai mengurangi porsi dana mahal yang bersumber dari deposito untuk kemudian menggesernya menjadi alternatif pendanaan bagi perseroan.

Langkah tersebut ikut memengaruhi pada beban bunga, di samping perseroan melakukan pula penetrasi pada penghimpunan dana murah atau CASA melalui perluasan produk tabungan maupun alternatif pendanaan dari pemilik dana yang menjadi mitra Bank Sulselbar.

Adapun penghimpunan DPK perseroan per Juni 2018 terkoreksi 0,62% secara tahunan menjadi Rp15,86 triliun, yang dipengaruhi oleh deposito dan tabungan meski pada segmen giro mencatatkan pertumbuhan 6,2%.

Struktur DPK saat ini lebih banyak bersumber dari giro 43,58% dengan nilai Rp6,92 triliun, lalu deposito 40,49% atau Rp6,42 miliar serta tabungan Rp2,51 triliun dengan komposisi 15,84%. Adapun rasio dana murah (current account and saving account/CASA) mencapai 54,47%.

Sementara itu, marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Sulselbar pada paruh pertama 2018 berada pada level 6,64% yang juga menjadi bentuk manifestasi dari komitmen perseroan menajamkan fungsi sebagai BPD.

Pada semester pertama ini, Bank Sulselbar mencatatkan penyaluran pinjaman sebesar Rp14,78 triliun dengan laju pertumbuhan 14,38% secara tahunan. Kemudian untuk perolehan pendapatan bunga bersih mampu meraup Rp1,01 triliun bergerak 3,2% secara tahunan.

Secara komposisi per segmen, realisasi penyaluran kredit pada paruh pertama itu terserap untuk sektor produktif Rp2,96 triliun sedangkan sisanya untuk konsumtif, dengan kualitas kredit (non performing loan/NPL) yang tetap terjaga pada level 0,63%.

Sejalan dengan serangkaian torehan itu, aset Bank Sulselbar mampu tumbuh 6,07% per Juni 2018 (YoY) menjadi Rp22,51 triliun dengan posisi return on asset (ROA) 3,55% serta LDR di kisaran 93,74%.

"Sejauh ini, seluruh perencanaan bisnis berjalan dengan sangat baik. Kami cukup efesien namun tetap melakukan penguatan layanan dan produk," kata Irmayanthi.

Tumpuan Akselerasi

Pada kesempatan berbeda, Direktur Utama Bank Sulselbar Andi Muhammad Rahmat mengemukakan 2018 menjadi titi tolak dari langkah akselerasi perseroan untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang konsisten berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.

Dia mengakui, beberapa langkah strategis yang direalisasikan pada tahun ini sebenarnya telah direncanakan sejak beberapa tahun dengan implementasi secara bertahap, yang mana salah satunya adalah digitalisasi layanan dan produk.

Indikator Kinerja Bank Sulselbar I/2018
NIM 6,64%
BOPO69,09%
LDR93,74%
ROA3,55%
NPL (Gross)0,63%
CAR22,48%
ROE21,83%

"Segmen ritel juga terus kami perkuat, aliansi dengan pemerintah maupun institusi terus diintesifkan sebagai bentuk alternatif pendanaan. Untuk prekreditan, sektor produktif akan lebih banyak lagi disasar. Sehingga ada pertumbuhan bisnis, juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Semangat transformasi BPD," ujarnya kepada Bisnis.

Khusus untuk paruh pertama 2018, lanjut Rahmat, penyesuaian gaji karyawan perseroan juga telah direalisasikan yang diakui ikut mempengaruhi posisi beban operasional Bank Sulselbar.

Dia menjelaskan, penyesuaian gaji karyawan terakhir dilakukan perseroan pada 2012 silam dan baru direalisasikan pada tahun ini guna mendukung penguatan kinerja maupun kapasitas SDM.

"Seluruh lini kami akselerasikan tahun ini, bisnis yang bertumbuh secara berkelanjutan, serta fungsi sebagai bank pembangunan daerah bisa lebih optimal kami lakukan," ucap dia.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya