Berhasil Tekan Inflasi, TPID Sulut Raih Dua Penghargaan

Oleh: Deandra Syarizka 27 Juli 2018 | 08:40 WIB
Berhasil Tekan Inflasi, TPID Sulut Raih Dua Penghargaan
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) menyerahkan penghargaan kepada kepala daerah peraih Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) saat Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2018 di Jakarta, Kamis (26/7/2018)./ANTARA-Puspa Perwitasari

Bisnis.com MANADO—Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara menorehkan prestasi dengan menyabet dua penghargaan sekaligus sebagai TPID Terbaik 2017 Tingkat Provinsi dan TPID Berprestasi 2017 Tingkat Kabupaten/Kota untuk Kabupaten Bitung.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Presiden RI Joko Widodo dalam rapat koordinasi nasional pengendalian inflasi di Jakarta, Kamis (26/07). Apresiasi itu diberikan kepada TPID yang memiliki kinerja terbaik di antara total 532 TPID dari 34 provinsi dan 498 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menjelaskan, inflasi telah menjadi fokus perhatian pemerintahannya sejak dilantik sebagai gubernur pada Februari 2016, mengingat tingkat inflasi di Sulut  pada saat itu menjadi yang tertinggi di Indonesia. Namun, berkat upaya TPID yang terdiri dari pemerintah provinsi, Bank Indonesia Sulut, Kepolisian, Kejaksaan, dan dinas terkait, tingkat inflasi Sulu selama dua tahun terakhir berhasil ditekan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tingkat inflasi Sulut yang diwakili Kota Manado mencapai 3,67% pada Desember 2016 year-on-year, atau mencapai yang tertinggi di Indonesia. Tingkat inflasi tersebut berangsur menurun hingga tercatat sebesar 2,44% secara tahunan pada Desember 2017.

“Berkat kerja keras semua tim TPID selama dua tahun pemerintahan, inflasi di Sulut bisa dikendalikan, mulai dari produksi sampai distribusi logistiknya diatur,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (26/07).

Dia mencontohkan, salah satu program yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi adalah gerakan Batanang Rica dan Tomat (Barito). Gerakan ini bertujuan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, terutama pada komoditas Bawang Daun, Cabai, dan Tomat yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi penyumbang inlasi terbesar untuk Provinsi Sulawesi Utara.

Melalui program tersebut, ujarnya, TPID bekerja sama dengan PKK dan semua lembaga masyarakat menyiapkan bibit untuk petani lima bulan sebelum hari-hari besar keagamaan seperti Natal, Lebaran, dan Pengucapan Syukur yang menjadi tradisi masyarakat Sulut.

Program ini merupakan pelaksanaan yang ketiga yang telah diselenggarakan oleh TPID Provinsi Sulawesi Utara sejak tahun 2017. Adapun pada tahun ini, TPID akan menyerahkan bantuan sebanyak 20.000 bibit tanaman batang bawang, rica (cabai), dan tomat untuk mendukung program tersebut.

“Sehingga kebutuhan barito tersedia, dan juga dimonitor bahan apa yang menyebabkan inflasi. Pemerintah dan semua elemen ikut bekerja,” ujarnya.

Gunawan, Kepala Tim Advisory dan Keuangan/Asisten Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sulut menyatakan, prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras dan koordinasi serta sinergitas yang baik dari semua pihak terkait, mencakup seluruh dinas/instansi/lembaga terkait baik tingkat provinsi maupun kab/kota dalam upaya  penanggulangan inflasi Sulut.

“Ini merupakan penghargaaan yang pertama kalinya diterima Sulut, dan yang mengejutkan, kita dapat dua penghargaan langsung, untuk tingkat provinsi dan Kab/Kota Bitung,” jelasnya.

Dia menambahkan, ke depannya koordinasi dan sinergi harmonis antar seluruh pemangku kepentingan akan dipertahankan dan ditingkatkan guna mencapai keberhasilan dlm pengendalian inflasi Sulut kedepan. Menurutnya, tantangan yang dihadapi TPID dalam mengendalikan inflasi Sulut akan semakin berat ke depannya, terlebih dengan penetapan tambahan satu kota yaitu Kotamobagu sebagai kota indikator inflasi Sulut.

Adapun, inflasi Sulut telah mencapai 0,65% secara month to month pada Juli 2018, lebih rendah dari rata-rata inflasi Sulut pada periode yang sama dalam lima tahun terakhir, yaitu sebesar 0,77%.  Menurutnya, kondisi ini patut dipertahankan agar inflasi di Sulut pada akhir tahun nanti dapat sesuai dengan target yakni 3,5% +/- 1.

Editor: Lukas Hendra TM

Berita Terkini Lainnya