Sulteng Targetkan Populasi Sejuta Sapi, Kini Tercapai 40%

Oleh: Newswire 24 Juli 2018 | 13:39 WIB
Ilustrasi./Antara-Budi Candra Setya

Bisnis.com, SIGI – Gubernur Sulawesi Tengah H Longki Djanggola mengatakan jumlah populasi ternak sapi di daerah itu hingga kini sudah mencapai sekitar 400.000-an ekor yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Gubernur Longki saat membuka kontes ternak se-Sulteng yang dipusatkan di UPT Pembibitan Sapi di Desa Sidera, Kabupaten Sigi, Selasa (24/7/2018) mengatakan Pemprov Sulteng pada 2017 telah mencanangkan program populasi satu juta ekor sapi sampai dengan 2021.

"Dan saya optimistis target tersebut dapat terealisasi," kata dia.

Longki mengatakan untuk mewujudkan program sejuta sapi sebagaimana yang telah dicanangkan Pemprov Sulteng, pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan di seluruh kabupaten dan kota gencar melaksanakan perkawinan alam dan juga IB.

Seiring dengan program dimaksud, maka ada larangan untuk tidak menyembelih sapi betina produktif. Petani dilarang keras untuk menyembelih sapi betina produktif.

Sesuai data, kata dia, populasi sapi di Sulteng pada 2017 tercatat sebanyak 353.500 ekor. Dan selama tiga tahun ke depan diharapkan bisa bertambah 650.000 ekor sehingga pada 2021 menjadi satu juta ekor sapi potong.

Pemprov Sulteng juga gencar melaksanakan program siwab (sapi induk wajib buting). Target akseptor 2018 ini sebanyak 20.000 ekor, dan kebuntingan 16.160 ekor jumlah kelahiran 12.758 ekor.

Sementara realisasi sampai dengan 16 Juli 2018, sapi yang di inseminasi buatan (IB) berjumlah 17.162 ekor atau sekitar 85%. Dan yang mengalami kebutningan 8.705 ekor atau sekitar 53 persen serta angka kelahiran sebanyak 4.741 atau baru 37,16 persen.

Gubernur Longki mengatakan secara nasional pelaksanaan program Upsus Siwab di Provinsi Sulteng pada triwulan pertama menduduki peringkat satu nasional. Tetapi pada triwulan kedua 2018 ini turun ke posisi empat besar nasional.

Menurut dia, ada beberapa kendala dalam pelaksanaan program dimaksud antara lain kondisi peternakan sapi rakyat masih bersifat ekstensif tradisional atau masih banyak sapi yang bel;um memiliki tali hidung sehingga sulit didektesi masa birahinya.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya