Bank SulutGo Berencana Terbitkan Obligasi Kedua, Gantikan Target IPO

Oleh: Deandra Syarizka 23 Juli 2018 | 09:01 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, MANADO — PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo (Bank SulutGo) menyiapkan rencana penerbitan obligasi pada tahun depan guna menambah permodalan dan mengembangan kapasitas perseroan sebelum melantai di pasar modal.

Direktur Utama Bank SulutGo Jeffry Dendeng menjelaskan, aksi korporasi tersebut dipilih sebagai opsi setelah pihaknya memutuskan untuk menunda rencana penawaran saham perdana/ Initial Public Offering (IPO) yang semula akan dilakukan pada tahun ini. Dengan demikian, dia menjelaskan perseroan masih akan fokus mengembangkan kapasitas permodalan dalam setidaknya dua tahun mendatang.

“Kalau bisa [IPO] dua tahun lagi, kalau kapasitas sudah memadai. Yang jelas tahun depan kita akan masuk pasar dengan obligasi, yang sekarang kita punya ini sudah lima tahun, mau kita perpanjang dan kita tingkatkan [nilainya], tetapi belum tahu berapa,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan, BSG terakhir kali menerbitkan obligasi dengan nilai emisi mencapai Rp750 miliar pada9 Oktober 2014, dengan tingkat bunga tetap 11,9% per tahun dan jatuh tempo pada 9 Oktober 2019 mendatang.

Mengenai rencana IPO, Jeffry menjelaskan pihaknya telah berkonsultasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasilnya, BEI menyarankan BSG untuk fokus mengembangkan kapasitasnya. Hal ini bertujuan agar hasil IPO dapat dimanfaatkan perseroan untuk naik klasifikasi ke Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III dengan modal minimal Rp5 triliun.

Saat ini, ujarnya, BSG baru memiliki modal sekitar Rp1,3 triliun, sehingga masih memerlukan setidaknya Rp3,7 triliun untuk naik ke BUKU III. Menurutnya, jumlah tersebut terlampau besar untuk ditargetkan dalam IPO.

Lebih lanjut, dia memperkirakan rencana IPO dapat direalisasikan bila BSG telah memiliki modal sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Untuk mencapai target tersebut, pihaknya mengestimasikan membutuhkan waktu selama dua hingga tiga tahun.

“Katakanlah sudah Rp2,5 triliun atau Rp3 triliun, baru IPO sehingga bisa langsung masuk ke BUKU III,” jelasnya.

Mengenai laba, pada tahun ini Jeffry menargetkan dapat menyentuh Rp450 miliar, meningkat sekitar 15,68% dari capaian tahun lalu Rp389 miliar. Tahun lalu, karena ada efisiensi besar-besaran, capaian laba menunjukkan peningkatan hingga 50%.

“Dalam jangka menengah-panjang, saya memperkirakan [laba] akan stabil di 20%. Kemarin agak lompat tinggi, ke depannya stabil. Itu kalau semua program saya jalan bagus di angka itu karena efisiensi selesai,” tuturnya.

Di lain sisi, pihaknya juga melakukan efisiensi biaya pelatihan karyawan, dengan meresmikan gedung Excellent Center yang akan menjadi pusat pelatihan karyawan.

Menurutnya, Excellent Center merupakan bukti dari komitmen direksi dan manajemen BSG terhadap peningkatan kompetensi pegawai. Di lain sisi, pihaknya optimistis keberadaan gedung ini dapat menekan biaya pelatihan karyawan yang selama ini dilakukan di hotel dan bahkan di luar kota seperti Jakarta.

“Dengan dibangunnya BSG Excellent Center, ada efisiensi karena pelatihan yang dilakukan di Jakarta semua akan dipusatkan di sini, sehingga terjadi penghematan yang cukup besar,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya mengaku belum menghitung bersarnya efisiensi yang dapat dilakukan dengan memusatkan seluruh kegiatan pelatihan di gedung tersebut

 

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya