Tren Ekspor Sulsel Menunjukkan Pemulihan Moderat

Oleh: Amri Nur Rahmat 18 Juli 2018 | 10:06 WIB
Tren Ekspor Sulsel Menunjukkan Pemulihan Moderat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018)./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, MAKASSAR – Kinerja eksportasi Sulawesi Selatan secara perlahan terus mencatatkan tren pemulihan dengan kecenderungan pertumbuhan moderat.

Sepanjang semester pertama 2018, nilai ekspor Sulsel telah mencatatkan pertumbuhan hingga 8,98% menjadi US$549,26 juta ekuivalen Rp7,69 triliun (asumsi kurs Rp14.000). Padahal, hingga empat bulan 2018 lalu, ekspor Sulsel masih berada pada catatan negatif dan baru mengalami akselerasi memasuki dua bulan terakhir dan akhirnya menyentuh 8,98% kumulatif per Juni 2018.

Kepala Dinas Perdagangan Sulsel Hadi Basalamah mengatakan catatan positif tersebut tidak lepas dari harga komoditas ekspor utama Sulsel yakni nikel yang terus mengalami kenaikan di pasar global.

"Sebagian besar itu dari nikel, harganya juga sedang bagus-bagusnya di pasar global. Tidak hanya itu, beberapa komoditas kota juga ada kenaikan, meski beberapa juga masih negatif," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/7/2018).

Dia menjelaskan, beberapa kelompok komoditas sebenarnya mengalami peningkatan dari sisi kuantitas volume namun justru mencatatkan nilai ekspor negatif karena koreksi harga. Di antaranya adalah komoditas perikanan yang pada tahun ini mengalami penurunan dari sisi realisasi nilai ekspor, meski volume pengiriman masih tetap tinggi.

Hadi berharap, catatan positif diharapkan bisa terjaga hingga akhir tahun ini sembari terus mendorong penguatan ekspor termasuk mengintensifkan diversifikasi pasar melalui optimalisasi sinergitas dengan pelaku usaha.

Sebelumnya Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulsel Nursam Salam mengatakan lonjakan paling tinggi terjadi pada Juni 2018 secara bulanan dengan pertumbuhan hingga 71,78% dengan nilai mencapai US$108,05 juta atau Rp1,51 triliun.

Kinerja itu mengatrol realisasi nilai ekspor Sulsel secara kumulatif sepanjang semester I/2018 (Januari-Juni) berada pada US$549,26 juta dibandingkan dengan periode sama tahun lalu US$503,98 juta.

Secara terperinci, komoditas nikel memberikan kontribusi hingga 68,2% terhadap struktur nilai ekspor Sulsel di semester I/2018.

Kemudian kelompok komoditas biji-bijian berminyak ikut berkontribusi cukup besar dengan komposisi 9,8% senilai US53,87 juta atau berada di posisi kedua setelah nikel.

Di sisi lain, komoditas ekspor utama Sulsel dari sektor perkebunan yakni kakao masih mengalami kinerja negatif sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Komoditas andalan itu bahkan terjerembab hingga 77,03% di semester I/2018 dengan nilai hanya US$9,44 juta, padahal pada periode yang sama tahun lalu mencapai US$41,1 juta.

Demikian pula komoditas perikanan Sulsel yang tidak lagi menjadi daftar penyumbang utama ekspor Sulsel, di mana mencatatkan torehan negatif 60,72% secara tahunan di semester pertama.

Nilai ekspor komoditas perikanan Sulsel itu sebesar US$17,4 juta sedangkan pada periode yang sama tahun lalu masih mampu berkontribusi US$44,3 juta dan berada pada posisi kedua setelah nikel kala itu.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer