Pariwisata Sulut Butuh Pengembangan Infrastruktur

Oleh: Deandra Syarizka 11 Juli 2018 | 16:10 WIB
Pariwisata Sulut Butuh Pengembangan Infrastruktur
Warga menyaksikan parade kendaraan hias pada Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2017 di Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (8/8/2017)./ANTARA-Adwit B Pramono

Bisnis.com, MANADO — Industri pariwisata di Sulawesi Utara membutuhkan pengembangan infrastruktur yang lebih memadai untuk menarik lebih banyak wisatawan guna mencapai target 120.000 kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun ini.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sulawesi Utara (Sulut) Merry Karouwon menilai selain membutuhkan pelebaran jalan, fasilitas umum seperti standarisasi toilet dan air bersih di sejumlah tempat wisata juga perlu diperbaiki.

“Sisi infrastruktur memang harus dibenahi, terutama akses untuk kendaraan sejenis bus pariwisata minimal 29 kursi,” ujarnya, Rabu (11/7/2018).

Selain itu, Merry menilai sejauh ini akomodasi berupa perhotelan di Sulut sudah cukup untuk menampung wisatawan yang terus bertambah. Di lain sisi, adanya pertumbuhan homestay baru dinilai kurang signifikan dan hanya terbatas di daerah tertentu.

“Kalau lagi peak season atau ada event, [akomodasi perhotelan] terasa kurang. Tetapi, kalau tidak [peak season] masih oke. Homestay saya lihat masih wacana, hanya di tempat tertentu,” jelasnya.

Bumi Nyiur Melambang diakui memiliki kekayaan alam yang potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, khususnya wisata bahari. Selain Bunaken, sejumlah wisata alam lainnya yang menarik antara lain Danau Linow dan Air Terjun Tunan Talawaan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan ke Sulut melalui pintu masuk Bandara Sam Ratulangi mencapai 9.405 orang pada Mei 2018, menurun 7,79% dibandingkan April 2018 yang mencapai 10.200 orang.

Namun, bila dibandingkan dengan periode Mei 2017, angka tersebut melonjak hingga 68,28% dari posisi sebelumnya yang sebesar 5.589 orang.

Adapun wisatawan mancanegara (wisman) yang datang masih didominasi oleh China sebesar 88,51% atau 8.324 orang, diikuti oleh AS dengan 1,83% atau 172 orang, Jerman 160 orang atau 1,7%, Singapura 104 orang atau 1,11%. Sementara itu, sisanya berasal dari Australia, Hong Kong , Inggris, Prancis, Belanda, dan Malaysia.

 

Merry menambahkan kehadiran penerbangan langsung dari China ke Sulut turut menggairahkan industri pariwisata di provinsi ini. Hal itu terbukti dari semakin banyaknya biro perjalanan yang melayani rute tersebut.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya