Cengkih Sulit Ditemui di Pasar Induk Kolaka

Oleh: Newswire 04 Juli 2018 | 13:19 WIB
Cengkih Sulit Ditemui di Pasar Induk Kolaka
Petani memanen bunga cengkeh di salah satu perkebunan di Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (7/4)./Antara-Akbar Tado

Bisnis.com, KENDARI – Komoditas cengkih sebagai salah satu unggulan petani di kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Konawe Kepulauan dan Buton Utara Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) selama beberapa bulan terakhir masih langka dan sulit didapati di tingkatan pasaran tradisional maupun pasar induk.

Pantauan di Kendari, Rabu (4/7/2018), sejumlah pedagang hasil bumi yang ditemui mengaku cukup banyak pesanan dari luar daerah untuk membeli dalam jumlah tertentu, namun karena stoknya tidak ada sehingga para pembeli mengalihkan pembelian dalam komoditi lain.

Petugas Pengelola Informasi Pasar Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Adnan Jaya, mengatakan dari hasil pantauan di pasaran, selama beberapa bulan ini diakui tak ada yang menjual cengkih dalam bentuk kering di pasaran.

"Kalaupun ada yang menjual cengkih tersebut jumlahnya sangat sedikit, dan mungkin hanya stok lama yang disimpan petani sejak masa panen dan baru dijual saat ini dengan harga yang fantastis," katanya.

Menurut dia, cengkih yang merupakan produk tanaman jangka panjang itu, memang hanya sekali panen dalam setahun. Itupun panennya antara bula September-Oktober.

Para petani sudah jarang yang menawarkan ke pasaran Kota Kendari karena selama ini pedagang pengumpul yang biasanya langsung membeli di bawah pohon.

"Bahkan yang lebih parah lagi adalah, pedagang tengkulak biasanya langsung memberi uang panjar ke petani dengan perjanjian, setelah panen baru akan dikembalikan dengan harga sesuai kesepakatan kedua belah pihak," ujarnya.

Data Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra menyebutkan, harga bunga cengkih kering pada puncaknya pernah mencapai angka Rp135.000 hingga Rp150.000 per kilogram sedangkan bengko/gagang cengkih dijual pada kisaran Rp20.000 hingga Rp35.000 per kilogram.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya