Pembangunan Bendungan Passeloreng Sokong Swasembada Indonesia

Oleh: Andini Ristyaningrum 03 Juli 2018 | 14:51 WIB
Presiden Jokowi meninjau proyek pembangunan Bendungan Passeloreng di Kabupaten Wajo, Sulsel, Selasa (3/7/2018).

Bisnis.com, MAKASSAR – Presiden Joko Widodo menutup kunjungan kerjanya di Sulsel dengan meninjau proyek pembangunan Bendungan Passeloreng di Desa Arajang, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, Selasa (3/7/2018).

Bendungan tersebut merupakan salah satu dari proyek strategis nasional (PSN) yang diprogramkan pemerintahan Jokowi-JK di Sulsel, dua lainnya adalah Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa dan Pamukkulu Kabupaten Takalar.

Ketiga bendungan itu akan meningkatkan daya tampungan air sebanyak 261,23 juta meter kubik, salah satunya untuk meningkatkan suplai air irigasi di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai salah satu sentra pangan nasional.

Jokowi memaparkan, proyek Bendungan Passeloreng arahannya diharap bisa mendukung swasembada pangan di Indonesia. Apalagi saat ini ada 49 bendungan yang dibangun untuk menyiapkan air untuk irigasi pertanian.

"Pembangunan bendungan ini untuk program swasembada pangan. Penambahan produksi beras nasional, guna meningkatakan pendapatan dan standar hidup petani dan menyediakan sistem irigasi sepanjang tahun," papar Jokowi.

Bendungan Passeloreng termasuk bendungan yang sangat besar sebab membutuhkan lahan seluas 1.849 hektare dengan luas lahan yang saat ini susah dibebaskan yaitu sekitar 681 hektare atau sekitar 36,87%. Diharapkan pula bendungan ini bisa dijadikan air baku bagi masyarakat sekitar dan untuk pembangkit listrik.

Ia juga menjelaskan, Bendungan Passeloreng merupakan salah satu dari 9 bendungan yang akan rampung pada 2018, di samping Bendungan Rotiklot di NTT, Tanju-Mila dan Bintang Bano di NTB, Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Sei Gong di Batam, dan Sindang Heula di Banten.

"Tahun ini akan selesai delapan bendungan yang telah kita kerjakan 3-4 tahun lalu. Passeloreng yang mulai konstruksi sejak Juni 2015 ini ditargetkan selesai lebih cepat empat bulan dari jadwal kontrak pada Juli 2019 menjadi akhir Februari 2019," jelas Jokowi.

Nilai kontrak pembangunan ini sebesar Rp701 miliar dan dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan PT Bumi Karsa. Sedangkan jika termasuk konsultan sebesar Rp736 miliar.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya