Tomat Sayur Sering Bikin Galau TPID Sulut

Oleh: Kurniawan A. Wicaksono 12 Juni 2018 | 17:34 WIB
Penjual tomat dan cabai di Pasar Bersehati Manado tengah merapikan dagangannya. /Bisnis-Kurniawan A. Wicaksono

Bisnis.com, MANADO – Tomat sayur sering bahan kegalauan Tim Pengendali Inflasi Daerah Sulawesi Utara karena sering menjadi menjadi pemicu terbesar kenaikan indeks harga konsumen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) Soekowardojo mengatakan dari hampir 400 barang dan jasa yang disurvei oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait indeks harga konsumen, tomat sayur menjadi penyumbang inflasi yang cukup besar.

“Ini yang menjadi kegalauan TPID provinsi maupun kabupaten/kota. Konsumsi tomat sayur masyarakat di Sulut khususnya Manado ini luar biasa,” ujarnya dalam Bincang Ramadan TPID Sulut, seperti dikutip pada Selasa (12/6/2018).

Pihaknya mengaku terkejut dengan kondisi ini. Pasalnya, sambung Soekowardojo, tomat sayur bisa jadi berada di urutan 100 dalam penyumbang inflasi. Sementara, di Sulut, tomat sayur mengambil posisi ke-5 dalam pengeluaran masyarakat.

Adapun, pengeluaran terbanyak masyarakat di Bumi Nyiur Melambai digunakan untuk pembayaran sewa rumah setiap bulannya. Selanjutnya, ada pembelian beras. Posisi ketiga dan keempat yakni pengeluaran untuk angkutan umum dan listrik.

Berdasarkan rilis teranyar Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, inflasi Kota Manado pada Mei 2018 tercatat 0,55%. Angka tersebut memang lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya 1,09%. Namun, pada Mei 2017, Manado justru mencatatkan deflasi 1,13%.

Angka inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tersebut secara otomatis membuat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) hingga Mei tahun ini tercatat sebesar 3,97%. Realisasi ini lebih tinggi dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar 3,50%.

Tomat sayur masih menjadi penyumbang inflasi terbesar pada bulan lalu dengan inflasi sebesar 0,37%. Dari hasil pemantauan, kenaikan harga tomat sayur ini memang masih terjadi bulan lalu, meskipun tidak sebesar pada April 2018.

Kepala BPS Sulut Moh. Edy Mahmud mengatakan komoditas tomat sayur memang sulit dikendalikan. Selain komoditas cepat busuk, ada masalah dari sisi tata niaga. Pasalnya, tidak tergambarkannya dengan jelas tata niaga yang ada membuat pengendalian cukup sulit.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw mengatakan pergerakan harga tomat sayur memang sangat dipengaruhi oleh cuaca. Dalam beberapa bulan terakhir, hujan terus terjadi. 

“Jadi cuaca ini kadang-kadang memang enggak bisa kita prediksi sekarang karena petani juga masih menggunakan teknologi konvensional. Kalau dari Disperindag, kami cuma bisa mengkomunikasikan dengan beberapa daerah penghasil, seperti Sulawesi Tengah,” jelasnya.

 

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya