Pemprov Sulut Sidak ke Pasar Tradisional, Harga Sembako Terkendali

Oleh: Kurniawan A. Wicaksono 31 Mei 2018 | 18:50 WIB
Pemprov Sulut Sidak ke Pasar Tradisional, Harga Sembako Terkendali
Suasana Inspeksi Mendadak di Pasar Bersehati Manado - Bisnis/Kurniawan A. Wicaksono

Bisnis.com, MANADO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melakukan inspeksi mendadak di dua pasar tradisional untuk memantau ketersediaan dan harga kebutuhan bahan pokok menjelang Lebaran tahun ini.

Inspeksi mendadak (sidak) ini dilakukan di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Karombasan Manado pada hari ini, Kamis (31/5/2018). Pihak Bank Indonesia (BI), Bulog, dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Manado turut hadir.

Franky Manumpil, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Provinsi Sulut mengatakan pemerintah daerah, terutama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) ingin menjamin ketersediaan stok bahan pokok menjelang lebaran.

“Jadi kami akan memantau terus selama Ramadan ini untuk memastikan ketersediaan dan kualitas bahan pokok, tidak ada penimbunan-penimbunan, serta kondisi harga terjaga stabil,” ujarnya selepas melakukan sidak.

Bagaimanapun, sambungnya, Pemerintah Provinsi Sulut ingin masyarakat dapat menyambut Hari Raya Idulfitri dengan tenang. Pengendalian harga juga akan berpengaruh baik pada terjaganya tingkat inflasi di Bumi Nyiur Melambai.

Memantau harga bawang merah dan cabai. -Bisnis/Kurniawan A. Wicaksono

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw mengungkapkan dari sisi volume, hampir semua kebutuhan bahan pokok cukup dan tersedia. Harga bawang, rica, tomat (barito) pun masih dalam kategori aman.

“Meskipun terjadi lonjakan harga untuk bawang dan sedikit untuk rica, tetapi sebenarnya cabai ini sudah stabil pada harga Rp40.000-Rp50.000-an per kilogram. Kalau lihat hari ini di tingkat eceran sangat variatif. Kalau di distributor ada yang bisa menjual Rp38.000,” jelasnya.

Pihaknya mengaku akan mengkaji data yang didapat di lapangan. Setidaknya, ada upaya fasilitasi agar margin dari distributor ke pedagang eceran tidak terlalu besar. Pasalnya, ada beberapa aspek yang membuat margin itu terlalu besar.

Salah satu penyebabnya yakni skema kredit yang diambil pengecer saat mengambil barang di tingkat distributor. Hal inilah yang membuat juga adanya spekulasi di tingkat pedagang karena pelunasan dilakukan setelah barang terjual.

“Ini yang mengakibatkan terjadi spekulasi misalnya, kalau dia laku setengah [dengan harga yang dipatok], dia sudah bisa membayar secara keseluruhan apa yang sudah diambil,” kata Jenny.

Memantau kualitas mie basah. -Bisnis/Kurniawan A. Wicaksono

Soekowardojo, Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut mengungkapkan dari hasil sidak kali ini, bank sentral melihat adanya upaya pengendalian harga dan pasokan yang cukup bagus. Jika ada peningkatan sedikit pada harga bawang merah, gula merah, dan daging sapi, menurutnya, masih cukup terkendali.

“Rasa-rasanya kita bisa berlebaran dengan harga-harga yang lebih stabil. Inflasinya mungkin akan terkendali. Perkiraan kami tidak setinggi kemarin yang 1,09% gara-gara tomat. Kalau baritonya lancar, ya 0,5% sudah cukup lah inflasi kita di Ramadan dan Lebaran ini,” katanya.

Secara umum, pihaknya melihat komponen harga barang bergejolak (volatile food) di Sulut menjelang Idulfitri kali ini cukup terkendali. Dia hanya masih cemas dari sisi tarif angkutan udara yang mulai merangkak naik. Apalagi, ada beberapa cancel flights beberapa rute dari maskapai penerbangan akhir-akhir ini.

“Itu salah satu tantangan kita. Pak Gubernur Sulut [Olly Dondokambey] juga sudah menaruh perhatian ke hal-hal itu. Mudah-mudahan nanti kita bisa follow-up lagi,” imbuh Soekowardojo.

 

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer