Bagaimana Respons Yap! di Makassar? Begini Proyeksi BNI & Realisasinya

Oleh: Amri Nur Rahmat 28 Mei 2018 | 09:19 WIB
Direktur Bank BNI Anggoro Eko Cahyo (dari kiri), Direktur Imam Budi Sarjito, SEVP Digital Banking Dadang Setiabudi dan Direktur Bob T Ananta membeli kopi dengan menggunakan \\\'BNI Yap!\\\' saat peluncurannya di Jakarta, Jumat (26/1)./ANTARA-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, MAKASSAR - BNI Wilayah Makassar mengestimasi penggunaan teknologi QR Code sebagai alat pembayaran berbasis non tunai yang dikembangkan perseroan bisa menjaring hingga 5.000 pengguna aktif per bulan di wilayah operasional.

VP Consumer Banking BNI Wilayah Makassar Hadi Santoso mengemukakan pihaknya tengah melakukan serangkaian upaya untuk menciptakan ekosistem transaksi berteknologi QR Code yang juga menjadi bagian dari dukungan terhadap gerakan nasional non tunai.

Dia menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Yap! Food Festival sepanjang Ramadan dengan melibatkan sekitar 32 merchant dari segmen restoran maupun tenant kuliner yang memungkinkan menerima pembayaran melalui skema QR Code.

Pada program tersebut, papar Hadi, pengguna aplikasi Yap! bisa mendapatkan potongan harga hingga 40% pada seluruh merchant mitra perseroan sepanjang penyelenggaraan Food Festival.

Sebagai informasi, Yap! atau your all payment merupakan aplikasi pembayaran dengan teknologi QR code yang dikembangkan oleh BNI dan menggunakan tabungan nasabah perseroan, kartu kredit maupun uang elektronik BNI sebagai sumber dana.

"Sejauh ini, pengguna aktif Yap! di Wilayah Makassar sudah mencapai sekitar 11.000-an nasabah, dan kami targetkan terus bertambah minimal 5.000 pengguna aktif per bulan. Makanya kami selenggarakan Food Festival Ramadan untuk mendorong penggunaan Yap! ini," tutur Hadi kepada Bisnis, Minggu (27/5/2018).

Adapun Yap! mulai diperkenalkan perseroan untuk Wilayah Makassar pada pertengahan kuartal pertama 2018 lalu, di mana secara perlahan mulai membentuk ekosistem yang tercermin dari kuantitas pengguna aktif maupun merchant mitra BNI.

Hingga kuartal kedua 2018 berjalan ini, jumlah merchant yang menerima pembayaran melalui skema QR Code dengan aplikasi Yap! di Wilayah Makassar telah mencapai sekitar 4.000 unit yang terkonsentrasi di Kota Makassar.

Sekadar diketahui, BNI Wilayah Makassar memiliki cakupan empat provinsi yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Maluku.

"Khusus untuk merchant sendiri, kami memang punya target paling tidak ada penambahan 500 unit usaha yang masuk dalam ekosistem Yap! ini. Baik itu restoran/cafe, toko ritel maupun tenant berbagai macama segmen, baik kuliner, fesyen maupun lainnya," papar Hadi.

Kemudian dari sisi nominal transaksi, lanjutnya, masih berada dalam kisaran Rp7 miliar hingga Rp9 miliar per bulan terhitung sejak diperkenalkan secara resmi pada Februari 2018 lalu untuk Wilayah Makassar.

Namun kedepannya, nominal transaksi melalui skema QR Code tersebut sudah bisa berada pada angka Rp50 miliar per bulan sejalan dengan upaya penciptaan ekosistem Yap! yang direalisasikan perseroan.

"Kami optimistis, Yap! menjadi pilihan dalam melakukan transaksi non tunai. Seluruh promo kami bikin sangat impresif dan masif untuk pengguna Yap!. Nilai transaksi Rp50 miliar sangat realisitis dan berpotensi lebih tinggi lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Teknologi Informasi BNI Dadang Setiabudi mengatakan, saat ini teknologi pembayaran menggunakan QR code masih bersifat melengkapi teknologi pembayaran menggunakan mesin electronic data capture (EDC). Namun demikian, ketika ekosistem telah terbentuk, maka teknologi QR code berpeluang menggeser peran mesin EDC, bahkan menggulungnya.

Sejauh ini aplikasi Yap! telah diunduh oleh sekitar 130.000 downloader secara nasional dan juga sudah tersambung dengan sekitar 60.000 merchant yang bekerja sama.

Menurut Dadang, sistem pembayaran nontunai berbasis QR code potensial dikembangkan di Indonesia, karena masyarakat sudah semakin terbuka dengan teknologi baru.

Selain itu, dari sisi perbankan, tekonologi QR code juga dinilai lebih efisien dalam hal investasi. Sebagai perbandingan, nilai investasi yang ditanggung oleh bank untuk setiap unit mesin EDC berkisar Rp2 juta-Rp3 juta, ditambah dengan biaya komunikasi dengan merchant sekitar Rp30.000-Rp40.000 perbulan.

“Kalau pakai QR code kan tidak ada investasi tambahan. Nanti bisa langsung tersambung dengan kasir melalui internet dan intranet,” lanjutnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya