KINERJA KUARTAL I/2018 BANK SULUTGO: Penyaluran Kredit Naik 21%, Porsi UMKM Bertambah

Oleh: Kurniawan A. Wicaksono 25 April 2018 | 19:56 WIB
KINERJA KUARTAL I/2018 BANK SULUTGO: Penyaluran Kredit Naik 21%, Porsi UMKM Bertambah
Direktur Utama Bank SulutGo Jeffry A. M. Dendeng (kanan) dan Direktur Welan T. Palilingan memberikan paparan mengenai kinerja perusahaan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Kamis (12/10)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, MANADO – Penyaluran kredit PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo pada kuartal I/2018 tercatat meningkat hingga 21%. Porsi penyaluran ke UMKM membesar meskipun masih terbatas.

Menilik laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (Bank Sulutgo), realisasi penyaluran kredit hingga 31 Maret 2018 mencapai Rp11,07 triliun, naik sekitar 21% dibandingkan dengan posisi kuartal I/2017 senilai Rp9,15 triliun.

Kenaikan kredit terjadi baik di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun non-UMKM. Kredit kepada UMKM mencapai Rp823,26 miliar, melesat hingga 161% dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2017 senilai Rp315,82 miliar.

Sementara, kredit kepada non-UMKM pada tiga bulan pertama tahun ini tercatat senilai Rp10,25 triliun, tumbuh 16% dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp8,84 triliun. Artinya, penyaluran kredit ke sektor non-UMKM masih mendominasi.

Kendati demikian, lebih pesatnya peningkatan kredit ke sektor UMKM membuat porsinya juga bertambah. Pada kuartal I/2017, porsi penyaluran kredit ke sektor ini hanya mencapai 3,45% dari keseluruhan kredit. Sementara, pada tahun ini, porsi itu bertambah hingga 7,43%.

Saat ditemui Bisnis.com belum lama ini, Direktur Utama Bank Sulutgo Jeffry A.M. Dendeng mengungkapkan ada permintaan dari pemegang saham untuk lebih berperan dalam perekonomian daerah, terutama ke pelaku UMKM, pengusaha, kontraktor, dan pedagang.

“UMKM semuanya kita sasar, tapi memang untuk prioritas utama di pariwisata dan pertanian,” ujarnya, seperti dikutip pada Rabu (25/4/2018).

Fokus pada UMKM dan sektor produktif, menurutnya, akan memberikan multiplier effect pada pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara dan Gorontalo. Oleh karena itu, instansinya akan terus memberikan pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku UMKM.

Kenaikan kredit tersebut membuat loan to deposit ratio (LDR) pada kuartal pertama tahun ini meningkat ke level 80,20%, dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar 77,50%. Menurut Jeffry, posisi LDR sejauh ini masih aman, bahkan masih kurang. Untuk tahun ini, pihaknya mengharapkan LDR bisa tembus level 90%.

Adapun, non performing loan (NPL) gross pada kuartal I/2018 mencapai 1,43%, naik dari posisi tahun lalu 1,04%. Sementara, performa NPL netmenunjukkan penurunan dari 0,60% menjadi 0,52%.

Dana Murah

Selain mulai memperbesar penyaluran kredit pada UMKM dan sektor produktif lainnya, pihaknya mengaku akan terus menerapkan efisiensi. Oleh karena itu, pihaknya mengaku akan membidik dana murah.

“Ada perubahan kecil-kecil, dulu kan CASA masih sekitar 27%, sekarang sudah 30%-an dan rate-nya sudah lebih kecil jadi tidak membebani kami lagi,” ujarnya.

Jika melihat komposisi dana pihak ketiga (DPK) posisi per 31 Maret 2018, simpanan berjangka masih mendominasi hingga 68,17% dari total Rp13,2 triliun. Sisanya, yakni giro dan tabungan mencatatkan porsi 21,34% dan 10,48%.

Bila dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2017, dominasi simpanan berjangka memang turun tipis. Pada akhir tahun lalu dengan DPK Rp11,33 triliun, porsi simpanan berjangka mencapai 68,56%. Sementara giro dan tabungan masing-masing 15,32% dan 16,12%.

Namun demikian, bila dibandingkan dengan posisi kuartal I/2017, dominasi simpanan berjangka justru meningkat. Pada periode tersebut, porsi simpanan berjangka hanya 64,82%. giro dan tabungan pada tiga bulan tahun lalu mengambil porsi 23,34% dan 11,84%.

Hal ini diikuti dengan kenaikan beban bunga yang mencapai Rp217,07 miliar atau naik 23% dibandingkan posisi akhir Maret 2017 senilai Rp176,72 miliar. Namun, dengan pendapatan bunga Rp490,27 miliar atau naik 13%, pendapatan bunga bersih masih tercatat naik 6%.

Pendapatan bunga bersih mencapai Rp273,19 miliar. Namun, karena pendapatan operasional selain bunga bersih tercatat defisit Rp169,26 atau bertambah 16,15% dari tahun lalu, laba operasional kuartal I/2018 tergerus. Laba operasional tercatat senilai Rp103,94 miliar, turun 7,63% dari capaian tahun lalu Rp112,52 miliar.

Adapun, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tercatat sebesar 81,14%, naik dari capaian tiga bulan tahun lalu sebesar 77,82%.Net interest margin (NIM) pun turun dari 9,69% menjadi 7,69%.

Secara total komprehensif tahun berjalan, Bank Sulutgo masih mencatatkan laba senilai Rp77,14 miliar. Kendati demikian, laba itu lebih rendah dari capaian kuartal I/2017 senilai Rp86,91 miliar.

Jeffry mengatakan target laba tahun ini mencapai Rp450 miliar, meningkat sekitar 15,68% dari capaian tahun lalu Rp389 miliar. Tahun lalu, karena ada efisiensi besar-besaran, capaian laba menunjukkan peningkatan hingga 50%.

“Dalam jangka menengah-panjang, saya memperkirakan [laba] akan stabil di 20%. Kemarin agak lompat tinggi, ke depannya stabil. Itu kalau semua program saya jalan bagus di angka itu karena efisiensi selesai,” tuturnya.

 

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer