Diskon Pendaratan di Bandara Sam Ratulangi Sepi Peminat

Oleh: Kurniawan A. Wicaksono 24 April 2018 | 08:05 WIB

Bisnis.com, MANADO – Insentif berupa diskon biaya pendaratan bagi rute atau penerbangan baru di Bandara Sam Ratulangi Manado sepi peminat.

General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Sam Ratulangi Minggus Gandeguai mengungkapkan hingga saat ini belum ada pengajuan rute baru dari maskapai penerbangan yang sudah beroperasi di wilayah kerjanya.

“Sejauh ini belum ada permohonan ke saya di tahun ini. Padahal, kita sudah sampaikan dan bujuk dengan adanya diskon 50% landing fee. Belum ada yang memanfaatkan,” ujarnya saat ditemui Bisnis.com di kantornya belum lama ini, seperti dikutip pada Senin (23/4/2018).

Dia mengaku sudah proaktif menyampaikan kepada pihak maskapai penerbangan terkait insentif ini. Pihaknya menegaskan jika ada pembukaan rute baru, misalnya, penerbangan langsung dari Manado ke Timika, insentif otomatis berlaku.

Seperti diketahui, PT Angkasa Pura I (Persero) memberikan insentif diskon 50% biaya pendaratan (landing fee)selama 6 bulan bagi rute atau penerbangan baru di Bandara Sam Ratulangi Manado.

Selain di Manado, diskon ini juga berlaku di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Juanda Surabaya, SAMS Sepinggan Balikpapan, Sultan Hasanuddin Makassar, Adisutjipto Jogjakarta, Lombok Praya, Adi Soemarmo Solo, dan Syamsudin Noor Banjarmasin.

Tidak tanggung-tanggung, ada pula beberapa bandara yang mendapatkan pembebasan biaya pendaratan selama 6 bulan, yakni Bandara Pattimura Ambon, Frans Kaisiepo Biak, dan El Tari Kupang.

Ada pula pembebasan biaya promosi maskapai di bandara selama satu bulan penuh, pembebasan biaya inaugurasi pembukaan rute baru di bandara, serta insentif untuk menstimulus pertumbuhan penumpang.

Minggus menegaskan akan memfasilitasi penuh pengajuan rute baru. “Kalau kesulitan di otoritas saya di Manado, ngomong, biar segera saya lakukan permintaan Anda seperti apa. Pasti saya ada,” tegasnya.

Apalagi, pihaknya juga menargetkan adanya terminal internasional yang bisa beroperasi pada 2019. Pasalnya, derasnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara (Sulut) berdampak pada kebutuhan terminal khusus untuk penerbangan internasional.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya