Sulsel Belum Mampu Jadi Tumpuan Beras Nasional

Oleh: Amri Nur Rahmat 18 April 2018 | 01:10 WIB
Sulsel Belum Mampu Jadi Tumpuan Beras Nasional
Petani menangkat padi hasil panennya di Persawahan Tombolo Gowa, Sulawesi Selatan/Antara

Bisnis.com, MAKASSAR - Sulawesi Selatan dinilai belum mampu menjadi tumpuan komoditas beras nasional karena laju produktivitas tahunan tidak terlalu signifikan.

Ketua Asosiasi Beras Indonesia (ABI) Sulsel Akifuddin mengatakan rata-rata produksi gabah hanya berkisar 5,5 juta ton dalam beberapa tahun terakhir dan hanya menorehkan pertumbuhan yang sangat terbatas.

"Masih banyak yang perlu dibenahi untuk produktivitas gabah kita. Memang ada surplus beras, tetapi  belum bisa menjadi tumpuan nasional, tetapi jika untuk memasok kebutuhan provinsi lain, tentu saja sangat mampu," katanya kepada Bisnis, Selasa (17/4/2018).

Menurut dia, pembenahan mesti dilakukan secara menyeluruh mulai dari pendampingan bagi petani, distribusi bantuan bibit gratis yang sesuai hingga perbaikan infrastruktur irigasi pertanian serta aspek lainnya.

Kemudian pupuk subsidi bagi para petani diharapkan betul-betul gratis tanpa dibebankan biaya apapun bagi para stakeholder pertanian.

Padahal, lanjut dia, potensi produksi beras Sulsel dalam beberapa kajian akademis memungkinkan mencapai 9,9 juta ton gabah per tahun.

Kemduian pada sisi penggilingan gabah, pemerintah daerah juga diminta lebih aktif melakukan stimulus terutama pada penggilingan skala kecil di daerah.

Sementara itu, produksi beras Sulsel pada tahun ini diproyeksikan pula kembali mengalami peningkatan kuantitas sejalan dengan produksi gabah yang ditargetkan mencapai 6,7 juta ton kumulatif periode panen.

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Sulsel, Fitriani mengemukakan pihaknya optimis dengan target yang dibebankan dengan mengupayakan produktivitas bisa menjadi 56,56 kuintal per hektare.

"Bahkan kami harap realisasi hingga akhir 2018 nanti bisa dia tas proyeksi awal. Ada beberapa program untuk mencapai target tersebut mulai penyiapan bibit yang bagus, pupuk harus ada, teknologi budidaya termasuk pemeliharaan," katanya.

Sebagai informasi, luasan areal persawahan di Sulsel saat ini mencapai 393.877 hektare yang terdiri dari sawah irigasi dan sawah non irigasi.

Dari areal tersebut, seluas 649.190 hektare ditanami padi secara berkelanjutan sedangkan sisanya tidak ditanami padi maupun sementara tidak diusahakan.

Produktivitas padi Sulsel juga ditopang oleh kapasitas lahan persawahan yang mampun mencatatkan periode tanam hingga tiga kali dalam setahun, yang mana terdapat 34.473 hektare yang memungkinkan hal tersebut.

Kemudian sebagian besar 416.656 hektare persawahan Sulsel memungkikan periode tanam dua kali dalam setahun sedangkan sisanya hanya sekali dalam setahun.

Fitriani menuturkan, frekuensi penanaman padi areal persawahan itu menjadi indikator produktivitas lahan yang selanjutnya menjadi penopang kuantitas produksi beras Sulsel pada level optimal.

"Kedepannya diharapkan bisa lebih maksimal, terutama rasio produktivitas per hektare agar lebih meningkat dengan beragam upaya," katanya.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya